Kisah I
Bapak B adalah seorang direktur di sebuah perusahaan yang sangat terkenal. Bapak B lulus dari universitas ternama di dalam negeri kemudian melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Kariernya pun sangat baik dan prestasinya di perusahaan sungguh luar biasa. Usianya saat ini sudah tidak muda lagi dan sebentar lagi, dirinya akan segera memasuki masa pensiun. Waktu pun berlalu dan akhirnya ia memutuskan untuk pensiun. Saat pensiun, ia memiliki kekayaan yang cukup lumayan berupa deposito, rumah, apartemen, dan yang lainnya yang apabila ditotal bisa mencapai puluhan milyar.
Semasa menjabat di perusahaan tempatnya bekerja, gaji bulanannya mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk berbagai bonus dan tunjangan jabatan yang lainnya. Ia memiliki 2 anak yang saat ini sedang kuliah di luar negeri sehingga biaya bulanan yang harus dikeluarkan cukup mahal. Di samping itu, Bapak B ini memiliki gaya hidup yang luar biasa mewah dan terbilang boros. Apalagi, kesibukannya di perusahaan menyebabkan dirinya tidak terlalu memikirkan keadaan keuangan pribadi dan keluarganya. Buktinya, semasa menjabat di perusahaan, Bapak B tidak memiliki sumber penghasilan yang lainnya. Satu-satunya sumber penghasilan adalah gaji di tempat kerjanya.
Kebetulan, perusahaan tempatnya bekerja memberikan pesangon pensiun yang ditransfer bulanan. Tunjangan pensiunnya hanya sekitar 10 juta per bulan. Jadi, seusai pensiun, penghasilan yang sebelumnya mencapai ratusan juta rupiah, saat ini hanya sekitar 10 juta rupiah per bulan.
Tiga tahun pertama ia pensiun, tidak ada masalah yang terjadi karena tabungannya masih bisa membiayai kehidupannya. Setelah 3 tahun berlalu, ia mulai merasakan ada yang tidak beres dengan kehidupannya. Ia telah terbiasa hidup dengan penghasilan ratusan juta per bulan dan tiba-tiba saat ini penghasilannya hanya 10 juta per bulan. Inilah yang sering kita kenal dengan nama post power syndrome, di mana seseorang kehilangan kekuasaan dan penghasilan setelah pensiun. Singkat kata, jumlah tabungannya tidak cukup lagi dan ia harus pelan-pelan menjual aset-aset propertinya satu per satu, dimulai dari rumah dan apartemen investasinya, terutama agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah di luar negeri.
Malang tak dapat dihindari, gaya hidup bapak B yang tidak sehat serta kurangnya aktivitas olahraga membuat daya tahan tubuhnya tidak terlalu baik. Tiba-tiba, bapak B ini divonis penyakit kanker oleh dokter langganannya dan membutuhkan biaya kemoterapi yang jumlahnya milyaran rupiah yang mengakibatkan ia harus menjual aset propertinya yang terakhir, yakni rumah yang ditinggalinya, sehingga ia terpaksa menyewa rumahnya sendiri.
Kekhawatirannya pun semakin bertambah parah karena saat ini anak-anaknya terpaksa tidak dapat melanjutkan kuliahnya di luar negeri karena kurangnya biaya akibat penyakit yang dideritanya serta sulitnya mengubah gaya hidup yang telah bertahun-tahun menjadi kebiasaan.
Untung saja, Bapak B memiliki aset yang masih cukup untuk membiayai penyakitnya karena jabatannya semasa kerja sangatlah tinggi, meskipun pada akhirnya tetap saja Bapak B harus memendam dalam-dalam mimpinya untuk menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Coba bayangkan apabila bapak B ini tidak memiliki jabatan yang bagus semasa bekerja, tentunya ia harus berhutang ke sana kemari untuk membiayai penyakit dan mempertahankan gaya hidupnya, yang pada akhirnya akan semakin membebani kehidupan keuangannya di masa depan.
Akhirnya, saat ini anak-anaknya terpaksa melanjutkan kuliah di dalam negeri. Untungnya, anak-anaknya adalah anak-anak yang berbakti dan mau mengerti keadaan orang tuanya. Mereka sekeluarga pun terpaksa menurunkan gaya hidupnya karena asetnya yang tersisa tidak lagi sebanyak dulu dan mulai sekarang, mereka harus belajar hidup hemat.
Kisah II
Bapak F adalah lulusan dari universitas dalam negeri yang tergolong biasa-biasa saja. Kariernya pun biasa-biasa saja dan tidak secemerlang bapak B. Akan tetapi, semasa dia bekerja, istrinya mulai mencari penghasilan tambahan dengan berjualan secara online. Bapak F juga orang yang gemar membaca dan gemar belajar sehingga ia selalu berinvestasi secara rutin setiap bulannya ke instrumen-instrumen logam mulia, reksadana, dan juga saham. Investasi-investasinya di instrumen likuid tersebut digunakannya sebagai DP (uang muka) untuk membeli rumah pertamanya.
Yang menyenangkan, usaha istrinya juga semakin maju dan mereka mulai membeli franchise kecil-kecilan sehingga mereka memiliki lebih dari satu sumber pendapatan. Mereka berdua pun paham konsep investasi dan re-investasi sehingga jumlah uang yang mereka investasikan semakin lama semakin banyak hingga akhirnya mereka berdua memiliki aset yang jumlahnya mencapai milyaran rupiah dan pada akhirnya dapat menyekolahkan kedua putra-putri mereka ke luar negeri.
Saat ini, usia bapak F tidak muda lagi dan telah memasuki masa pensiun. Akhirnya, bapak F pun pensiun dan menerima uang pesangon bulanan yang jumlahnya hanya 5 juta rupiah per bulan, tidak sebesar uang pesangon yang diterima oleh bapak B.
Namun bedanya, usaha-usaha sampingan bapak F saat ini justru memberikan arus kas yang jumlahnya lebih besar dibandingkan penghasilannya semasa bekerja. Bapak F juga memiliki aset-aset properti yang disewakan sehingga menghasilkan arus kas setiap bulannya. Selain itu, uang yang telah diinvestasikannya di reksadana saham dan instrumen saham selama bertahun-tahun, ia putuskan untuk dicairkan dan disimpan ke deposito sehingga ia memiliki penghasilan bulanan seperti orang gajian. Bapak F pensiun dengan nyaman dan penghasilannya di masa pensiun malah lebih besar dibandingkan penghasilannya semasa bekerja.
Memang, aset bapak F tidak sebanyak bapak B. Akan tetapi, Bapak F paham benar mengenai konsep perencanaan keuangan. Bapak F dan istrinya adalah orang yang selalu menjaga kesehatan dan pola makannya. Di samping itu, mereka pun memiliki dana darurat yang siap untuk menghadapi risiko-risiko jangka pendek yang mungkin terjadi.
Untuk risiko jangka panjang seperti penyakit yang mungkin saja terjadi sewaktu-waktu, mereka telah melindungi dirinya dengan proteksi asuransi. Jadi, apabila di masa depan timbul penyakit tertentu, dirinya tidak perlu khawatir kalau aset-aset yang telah dikumpulkannya selama ini habis seketika karena risiko penyakitnya sudah ditanggung oleh perusahaan asuransi.
Perbandingan :
Bapak F dan istrinya pun saat ini hidup menikmati masa pensiun tanpa membebani anak-anaknya dan aset-asetnya pun terus menerus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Sebaliknya, bapak B menjadi beban bagi anak-anaknya karena anak-anaknya terpaksa membiayai kehidupan ayahnya yang saat ini sudah tidak lagi produktif seperti sedia kala.
Demikianlah dua cerita yang sungguh terjadi di kehidupan nyata. Bapak B (bankrupt) tidak menerapkan konsep perencanaan keuangan dalam kehidupannya sehingga kekayaannya makin lama makin menurun, sedangkan Bapak F (financial freedom) menerapkan konsep perencanaan keuangan sehingga ia dapat menikmati masa tuanya dengan nyaman dan tentram.
Jadi…kehidupan seperti apa yang Anda pilih ?
Apakah perencanaan keuangan keluarga perlu dilakukan atau tidak ?
Jika Anda ingin aman secara finansial, sudah menjadi tugas Anda untuk terus meningkatkan financial IQ Anda.
We Care About You,
PT. Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas


1 komentar:
Copas artikelnya boleh? Www.silvervsi.com
Posting Komentar