skip to main | skip to sidebar

Jiwa Entrepreneur | SUKSES Dunia Akhirat

Blog ini dibuat dengan tujuan: 1. Memberikan motivasi, tips-tips bisnis, artikel kesehatan, serta artikel unik dan menarik lainnya. 2. Sebagai sarana diskusi dan informasi bagi warga Medan dan sekitarnya. 3. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya keluarga dan memberikan solusi Financial Planning yang terbaik bagi keluarga 4. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan agar kita bisa selalu berada di tengah-tengah keluarga.

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit

Minggu, 02 Desember 2012

Sukses Dengan Kalimat Motivasi " Lima Menit Lebih Lama "

by : Unknown | Time : 2.12.12 Label: Sukses

Cerita Motivasi kali ini menceritakan tentang seorang Jendral perang Prancis yang sangat disegani. Anda pernah mendengar atau mengenal kisah sukses tokoh yang bernama Napoleon Bonaparte?

Jika belum, Napoleon Bonaparte sering diasosiasikan sebagai jenderal perang Prancis terhebat pada zamannya. Namun, catatan hitam akan kekalahannya di Waterloo atas tentara Inggris yang dipimpin oleh Duke of Wellington membuat banyak orang bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab kekalahan jenderal yang sangat disegani ini?

Beberapa wartawan bertanya, “Pak Jenderal, bisa anda ceritakan mengapa tentara Inggris mengalahkan Anda di pertempuran waterloo? Apakah mereka memiliki tentara yang lebih kuat ?”

Dari kegelapan penjara terdengar suara dingin Napoleon yang berkata “Tidak.”

Wartawan itu bertanya lagi dengan penuh keingintahuan, “Apakah karena mereka memiliki senjata yang canggih?”

Sekali lagi Napoleon menjawab, “Tidak.”

Wartawan itu bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa Anda kalah pada pertempuran itu?”

Keheningan berlangsung cukup lama sampai akhirnya Napoleon memberikan jawaban yang patut kita simak dalam kehidupan kita. Napoleon menjawab, “Tentara Perancis kalah dari tentara Inggris karena tentara Inggris berperang lima menit lebih lama dibandingkan tentara kami.”

Tentu cara berperang saat ini sangat berbeda jauh dibandingkan dengan zaman Napoleon. Namun, ada satu kenyataan yang tidak berubah sampai saat ini, yaitu mereka yang berperang dan mampu berjuang lebih lamalah yang akan memenangkan pertandingan.

Didalam kehidupan ini, kita sering menemukan hal-hal yang penuh kekecewaan dan kegagalan, dan hal-hal ini sering membatasi pandangan kita terhadap kesuksesan yang sebentar lagi sebenarnya bisa kita raih.

Permasalahan yang terjadi setiap waktu dan setiap harinya dalam perjalanan hidup ketika menjalankan tugas dan pekerjaan atapun dalam menghadapi lingkungan sosial atau hubungan profesional, seringkali kita berpikir sangat sulit untuk menyelesaikannya dan akhirnya membuat kita berpikir "Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, emang begini keadaannya, mau apa lagi, dijalani saja". Tanpa disadari dan bukan merupakan keinginan kita, namun hal ini merupakan ekspresi berpikir dari diri kita ketika menghadapi suatu masalah yang sulit diselesaikan.

Thomas Edison bahkan mengingatkan bahwa kelemahan terbesar dari diri kita adalah ketika kita menyerah, dan cara yang paling pasti untuk meraih kesuksesan adalah dengan mencoba sekali lagi, dan terus mencoba berkali-kali dan hadapilah hidup ini lima menit lebih lama lagi.

"Setiap kali anda berpikir ingin menyerah, ingatlah bahwa tentara Inggris bertempur lima menit lebih lama lagi."

"A hero is No Braver than Anyone Else; He is Only Brave Five Minutes Longer (Ralph Waldo Emersen)"


Salam Sukses



Baca Selengkapya... »»  
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kisah Ayah Dan Botol Acar

by : Unknown | Time : 2.12.12 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan

Cerita Inspirasi - Berikut adalah kisah yang sungguh luar biasa yang menggambarkan kasih sayang, cinta dan perjuangan seorang ayah kepada anaknya. Sebuah kisah yang menunjukan sesuatu yang sangat berharga tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah demi kehidupan anaknya yang lebih baik.

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemerincingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelum membawanya ke Bank untuk membayar premi polis asuransi pendidikan. Membawa keping-keping koin itu ke Bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan ayah di atas sepeda motor tuanya. Setiap kali kami pergi ke Bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. “Karena koin-koin ini kau kelak tidak perlu bekerja mengayuh becak seperti ayahmu ini. Nasibmu akan lebih baik daripada nasib ayahmu.”

Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir Bank, Ayah selalu tersenyum bangga. “Ini uang kuliah anakku. Dia takkan bekerja mengayuh becak seumur hidup seperti aku.”

Pulang dari Bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. “Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi.”

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. “Kau akan bisa kuliah dengan koin dua ratus, lima ratus, dan seribu rupiah ini,” katanya. “Kau pasti bisa kuliah. Insya Allah.”

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orang tuaku, aku masuk ke kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa diletakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada Fatimah, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di kala ayah sakit sehingga tidak mampu mengayuh becak, dan Ibu terpaksa hanya menyajikan tempe goreng dengan sambal bawang selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah diambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan mencolekkan sepotong tempe ke sambal, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. “Kalau kau sudah tamat kuliah,” katanya dengan mata berkilat-kilat, “Kau tak perlu makan hanya dengan sambal bawang dan tempe seperti ini kecuali jika kau memang mau.”

Liburan akhir tahun pertama setelah lahirnya putri kami Fitri, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandang cucu pertama mereka. Fitri menagis lirih. Kemudian Fatimah mengambilnya dari pelukan Ayah. “Mungkin popoknya basah,” kata Fatimah, lalu di bawanya Fitri ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

Fatimah kembali ke ruang keluarga dengan mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Fitri ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. “Lihat,” katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah disingkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu ke dalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Fitri dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

Segera temui ayahmu, cium tangannya yang mulai keriput dengan penuh kasih sayang, dan peluklah ia seolah tak ingin kau melepaskannya dan katakan dengan sepenuh hati, “Terimakasih wahai ayahku tercinta…. Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu. Sampai kutertidur bagai masa kecil dulu. Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku. Dengan apa aku membalas. Wahai ayahku tersayang…. (elhooda)

Sungguh kebiasaan baik terbentuk dari awal. Tindakan kecil ternyata bisa amat bernilai. Apapun profesi kita, bagaimana pun keadaan kita, mulailah dengan menanamkan bibit kebaikan kecil dan bertekad melakukan apa yang bisa kita lakukan dengan memanfaatkan kesempatan hidup kita.

Tindakan sederhana yang bagaimana pun kecil nilai kebaikannya, akan menjadi bernilai besar bila dilakukan dengan sepenuh hati, sekuat tenaga dan setulus jiwa, tanpa pernah mengharapkan imbalan atau pun balas jasa.

Apakah anda juga berpikiran untuk melakukan hal yang sama? Hal yang wajib dilakukan seorang ayah untuk mempersiapkan masa depan anak dan keluarganya. Jika jawaban anda "ya" anda bisa berkonsultasi dengan kami mengenai produk-produk asuransi yang paling cocok untuk keluarga anda.

PT Allianz Life Indonesia
www.allianz.co.id

Edwin (Financial Consultant)
HP : 085262184411
pin BB : 26EED2F4

Follow me at :
Twitter : @DiaryMedan (penulis)   |   @AllianzNetwork
Facebook Id : Edwin Darias Zheng
Facebook Fans Page : https://www.facebook.com/goresantintaemas 



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Bisnis Berlandaskan Kekuatan Memberi

by : Unknown | Time : 2.12.12 Label: Bisnis


Untuk menemani siang teman-teman sekalian saya akan menceritakan kisah inspirasi seorang pria paruh baya yang mempunyai sebuah toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Makin hari makin sedikit orang yang membeli pakan ternak ditokonya.

Dalam keputusasaanya, pria tersebut mendapat ide gila yaitu menginvestasikan 50 dolar (uang yang cukup banyak pada zaman itu), untuk membeli 1000 ekor anak ayam. Para tetangganya langsung mengejek & menganggap pria itu gila. Jual pakan ayam saja tidak bisa, apalagi jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa pria ini tidak menjual anak ayam tersebut. Sebaliknya ia memberikan anak-anak ayam tersebut secara GRATIS kepada pembeli pakan ternaknya. Benar-benar Gila! mereka berpikir, tokonya mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam, Terus membagi bagikan anak ayam tersebut secara Gratis.


Mana ada pebisnis waras yang melakukan itu?


Nyatanya, setelah ada program gratis anak ayam tersebut, mulai banyak orang membeli ditokonya. Semakin hari ternyata tokonya semakin laris saja. Setelah diselidiki para tetangga ternyata pembeli yang menerima Anak ayam gratis itu kembali lagi. 

Mengapa bisa demikian?
Tentu saja mereka beli makanan ayam untuk anak ayam gratisan itu.

Apa pesan moral dari cerita tersebut diatas ?

Jangan pernah takut untuk memberi karena memberi adalah langkah pertama untuk kita dapat menerima sesuatu. "Sayangnya banyak orang selalu berpikir yang sebaliknya. Menerima dulu, baru berpikir untuk memberi" Ini yang membuat kita tidak mengalami terobosan apa-apa dalam hidup ini

Mana ada petani sukses yang mengharapkan untuk menuai padahal ia tidak pernah menabur sebelumnya ?
Selagi ada kesempatan, jadilah orang yang murah hati. Beri kebaikan, beri perhatian & Jangan hanya memberi jika ada keuntungan saja untuk kita.

Ingatlah bahwa hidup ini seperti Gema. Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Apa yang kita berikan akan kita dapatkan kembali, bahkan berkali kali lipat dari apa yang kita berikan.

Mari selalu melakukan kebaikan. Jauhkan Rasa Iri hati. Menabur yang baik tentu akan menuai kebaikan juga.

Teman-teman juga boleh mencoba trik tersebut untuk bisnis anda. Tentunya bukan dengan membagi anak ayam, tapi melakukan suatu promosi yang bisa mendatangkan banyak pelanggan untuk bisnis anda. Saya doakan semoga usaha teman-teman makin laris ya...

Salam sukses dan selamat beraktifitas.



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Inspirasi : Buah kebaikan

by : Unknown | Time : 2.12.12 Label: Inspirasi

Inspirasi - Selamat siang teman-teman blogger sekalian... Kisah kali ini menceritakan tentang seorang pemuda yang setiap hari menggunakan angkutan umum. Untuk mencapai loket pembelian karcis, pemuda itu harus menaiki jembatan penyeberangan yang tidak pendek. Pemuda itu telah melewati jembatan penyeberangan setiap hari selama hampir dua tahun lamanya.

Disuatu pagi, pemuda itu hendak membeli sebuah karcis dengan menggunakan uang sebesar Rp.20 ribu. Pemuda itu tidak berhasil memperoleh karcis karena waktu itu terlalu pagi dan suasana disekitar itupun masih gelap, sehingga diloket tersebut belum ada uang kembalian. Muncul perasaan bingung pada diri pemuda itu karena ia tidak memiliki uang pecahan yang lebih kecil lagi. Uang Rp.20ribu itu adalah satu-satunya uang yang tersisa didompet pemuda itu.

Disisi lain pemuda itu harus berangkat kekantor pagi-pagi karena ada janji untuk mempersiapkan sebuah pertemuan. Tidak ada cara lain, ia harus kembali menaiki jembatan yang panjang itu untuk menukar uang dengan membeli sesuatu diwarung diseberang jalan.

Ketika pemuda itu berbalik badan hendak melangkah meninggalkan loket, tiba2 seorang bapak menyodorkan uang kecilnya kepada petugas loket. Ternyata bapak itu membeli dua buah karcis dan memberikannya kepada pemuda sebuah karcis. Sehingga pemuda itu dapat melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya dengan menggunakan angkutan umum tersebut.

Di sepanjang perjalanan, pemuda itu merenungkan kejadian yang baru saja dialaminya. Kemudian ia teringat akan kejadian serupa yang terjadi di waktu silam. Tetapi yang berbeda adalah pada kejadian silam justru si pemuda yang membantu seorang korban pencurian yang sedang kebingungan karena uangnya hilang, sehingga tdk bisa membeli karcis.

Ya... Buah dari kebaikan adalah kebaikan. Perbuatan baik yang kita tabur tentu akan menuaikan kebaikan. Kebaikan belum tentu dituai ditempat yang sama pada saat kita menabur, tapi pasti terjadi pada waktu yang tepat disaat kita membutuhkannya.

Seperti dikisahkan dalam cerita tadi, dari perbuatan baik pemuda itu diwaktu yang lalu, pemuda itu menuai buah yang baik pula. So... Para sobat, janganlah bosan dan berhenti dalam melakukan perbuatan baik. Semoga kisah inspirasi di atas bermanfaat buat kehidupan anda.


Baca Selengkapya... »»  
3 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Motivasi Sukses : Menunda Fatal Akibatnya

by : Unknown | Time : 2.12.12 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan

Motivasi Sukses - Cerita ini adalah pengalaman pribadi dari teman saya, sebut saja namanya ibu Endang. Ibu Endang adalah seorang agen asuransi dari sebuah Perusahaan Asuransi Bergengsi.

Peristiwa "Menunda Fatal Akibatnya" ini bermula ketika ia menelpon calon nasabahnya yang ada di Serang Banten. Pada hari Selasa, ia (bu Endang) menelpon Prospeknya dan menanyakan apakah Prospeknya mau (jadi) membuka sebuah Polis Asuransi Jiwa darinya.

Ternyata setelah ia menelpon Prospeknya, sebut saja bernama pak Darto (bukan Darto Helm ya) ia mendapatkan konfirmasi positif bahwa Prospek nya berminat untuk membuka Polis dari bu Endang. Dengan senang bu Endang menginformasikan hal ini kepada rekan-rekannya yang kebetulan punya misi yang sama sebagai Agen Asuransi jiwa yaitu : "Memberikan Perlindungan Nilai Ekonomis para Pencari Nafkah agar Standard Hidup Keluarga yang sudah dinikmati pada hari ini tidak berubah walaupun si Pencari Nafkah telah Tiada"

Rekan-rekan dari Bu Endang pun ikut senang mendengarnya. Salah satu rekannya bertanya ke beliau "Kapan Pak Darto mau memberikan Dana (Premi) nya?". Bu Endang menjawab seperti ini "Pak Darto akan memberikan sebuah Cek Tunai kepada saya dan saya diperbolehkan kapan saja datang mengambil cek tersebut. Besok hari Rabu saya sudah boleh mengambilnya, tapi saya pikir saya akan pergi ambil hari Senin siang pada minggu depan aja"

Maklumlah, memang kantor Bu Endang di Jakarta dan tempat nasabah bu Endang di Serang Banten jaraknya lumayan jauh. Mungkin bisa memakan waktu 3 - 4 jam untuk perjalanan kesana.

Rekan-rekannya pun sekali lagi memberikan ucapan selamat kepadanya, karena ia telah berhasil melakukan Penutupan sebuah Polis (closing case).

Hari pun berlalu dan tibalah di Hari Selasa (1 minggu setelah bu Endang menelpon Prospeknya), salah seorang rekannya menemui bu Endang yang sedang tertunduk, tidak bersemangat. Rekannya bertanya kepadanya "Ada apa bu Endang? Apa yang telah terjadi? Koq mukanya kusut begitu? Padahal smalam kan harusnya ibu sudah berhasil melakukan closing dengan pergi mengambil cek dari Pak Darto"

Jawab bu Endang "Kemarin... hari Senen siang saya sampai ke kantornya Pak Darto, calon nasabah saya yang ingin memberikan Cek Tunainya kepada saya untuk membuka sebuah Polis dari saya. Ternyata Beliau sudah Tiada ...!!!"

"Loh kok bisa begitu ??" rekannya bertanya lagi.

"Pak Darto ketika hari Sabtu siang, yang baru pulang dari Kantornya ke arah rumahnya, di tabrak oleh sebuah Truk yang sedang mengangkut Lempengan Besi dan Baja. Hal tersebut mengakibatkan Pak Darto, Istrinya dan Supir Pribadinya tewas seketika dan mereka semua di Kuburkan pada hari Minggunya."

Rekan-rekan dari bu Endang terhenyak dan turut prihatin akan terjadinya hal ini.

Ya... hal seperti ini bisa menimpa siapa saja, namun yang saya sesalkan, kenapa bu Endang MENUNDA UNTUK MENGAMBIL CEK TUNAI yang telah dikonfirmasi boleh diambil kapanpun juga?

Padahal sejak hari Rabu, bu Endang telah boleh mengambil Cek Tunai itu. Kalau di ambil hari Rabu kan hal ini bisa memberikan sebuah Santunan Asuransi Kecelakaan yang menyatakan bahwa walaupun belum inforce namun ada clausula kecelakaan yang bisa memberikan santunan kepada anak/ Ahli Waris dari Pemilik Polis.

Harusnya bu Endang sadar bahwasannya:
"TIDAK ADA SEORANGPUN YANG TAHU KAPAN MALAIKAT MAUT ITU DATANG..!!"

Kita dapat mengambil Pelajaran dari Peristiwa di atas, Agen yang bagus sebaiknya :
"TIDAK BOLEH MENUNDA UNTUK SEGERA MEMPROSES PENGAJUAN ASURANSI JIWA DARI NASABAHNYA..."

Kita semua tahu bahwa :
"MENUNDA ITU BISA MENGAKIBATKAN HAL YANG SANGAT FATAL !"

Pertanyaannya : Apakah Anda yang hari ini masih menjalani Profesi sebagai Agen atau Leader di Asuransi jiwa masih ada Prospek Anda yang Menunda-nunda ?

Jika ada sebaiknya anda SEGERA MEMFOLLOW-UP calon nasabah anda.

Semoga hal ini bisa menjadi Perenungan dan Motivasi Sukses bagi Kita semua yang berprofesi sebagai agen asuransi.

Terima kasih telah membaca tulisan saya ini

Salam Sukses Selalu


Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Author :

Edwin Darias
MindSet Motivator | CREATIVEpreneur OPTIMIZer | Business Tricker
Hp : 08126494008
BB pin: DAEBA62E
____________________________________________
Click this

Follow Our Twitter : @JiwaEntreprener | @MaestroVSI

Follow @JiwaEntreprener Tweets by @DiaryMedan
Follow @MaestroVSI Tweets by @MaestroVSI

Check This !!

  • Friend With Me in Facebook
  • Bisnis VSI Ust. Yusuf Mansur

Arsip Blog

  • ►  2019 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2014 (26)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2013 (134)
    • ►  Desember (28)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (30)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (21)
    • ►  Juni (22)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (3)
  • ▼  2012 (126)
    • ▼  Desember (5)
      • Sukses Dengan Kalimat Motivasi " Lima Menit Lebih ...
      • Kisah Ayah Dan Botol Acar
      • Bisnis Berlandaskan Kekuatan Memberi
      • Inspirasi : Buah kebaikan
      • Motivasi Sukses : Menunda Fatal Akibatnya
    • ►  November (18)
    • ►  Oktober (50)
    • ►  September (53)

Popular Posts

Category

  • ASURANSI & Perencanaan Keuangan (84)
  • Bisnis (50)
  • Inspirasi (44)
  • Motivasi & Pengembangan Diri (40)
  • Kisah Sukses (27)
  • Sukses (27)
  • Others (14)
  • Beranda
Free Hit Counters
Free Hit Counters
Diberdayakan oleh Blogger.
 

© SUKSES Dunia Akhirat
designed by @JiwaEntreprener | Bloggerized by Edwin Darias | 08126494008 / DAEBA62E