skip to main | skip to sidebar

Jiwa Entrepreneur | SUKSES Dunia Akhirat

Blog ini dibuat dengan tujuan: 1. Memberikan motivasi, tips-tips bisnis, artikel kesehatan, serta artikel unik dan menarik lainnya. 2. Sebagai sarana diskusi dan informasi bagi warga Medan dan sekitarnya. 3. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya keluarga dan memberikan solusi Financial Planning yang terbaik bagi keluarga 4. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan agar kita bisa selalu berada di tengah-tengah keluarga.

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit

Minggu, 23 Juni 2013

Jangan Biarkan Sebuah Titik Menghancurkan Seluruh Kehidupan Anda

by : Unknown | Time : 23.6.13 Label: Motivasi & Pengembangan Diri


Seorang motivator bisnis yg terkenal, Jim Rohn, diundang sebuah perusahaan untuk melakukan motivasi memacu semangat karyawannya yg sudah mengendor.

Dalam presentasinya, Jim Rohn mengambil satu kertas putih yg besar, kemudian dia membuat sebuah titik hitam kecil dengan pena persis di tengah kertas itu. Dia kemudian memperlihatkan kertas itu kepada semua orang yang hadir disana, lalu bertanya, “Apakah yang dapat anda lihat dari kertas ini?”

Dengan cepatnya seorang pria langsung menjawab, “Saya melihat sebuah titik hitam.”

“Baik, apa lagi yg anda lihat selain titik hitam?”

Karyawan yang lainnya terus memberikan jawaban yang sama, “Hanya sebuah titik hitam...”

“Tidakkah anda melihat yang lainnya, selain titik hitam?”

“Tidak” dengan serentak, hampir seluruh pengunjung itu menjawabnya.

“Bagaimana dgn lembaran kertas putih ini?” Jim kembali bertanya, “Saya yakin kamu semua pasti melihatnya, tapi mengapa tidak ada yang memperhatikannya? Dan hanya melihat pada sebuah titik kecil saja?”

Jim kemudian menjelaskan,

“Dalam hidup ini, kita juga selalu lalai & mengabaikan akan banyak hal-hal yang baik, hal-hal yang dahsyat, hal-hal yang cermerlang, hal-hal yg indah, yang kita miliki atau pernah terjadi disekitar kita, kita hanya Fokus & memberikan perhatian pada masalah Kecil, masalah Sepele, masalah Keuangan, masalah Kekecewaan, masalah Kegagalan.

Banyak dari Masalah kita itu, persis seperti sebuah titik hitam kecil, dalam lembaran kertas besar ini.

Masalah itu kadang hanyalah kecil , sepele & tidak signifikan, hanya saja kita yang seringkali membesar-besarkan masalah kecil.

Jika kita dapat meluaskan pandangan kita untuk melihat dalam hidup kita, persis seperti kita lihat seluruh lembaran kertas ini, maka titik hitam tadi sangat kecil & hampir tidak berarti.
”


Apakah anda termasuk orang yang hanya selalu melihat titik hitam itu .... ??

Jadi Prinsipnya adalah : Jika ada Masalah yang Besar harus di Kecilkan lalu setelah Kecil dihilangkan.

Salam Sukses 

Baca Selengkapya... »»  
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Pelajaran Management - Para Perampok Ngerti Ilmu Management, Masa Kita Kalah?

by : Unknown | Time : 23.6.13 Label: Inspirasi



Suatu hari terjadi perampokan di bank. Perampok berteriak kepada semua orang di bank, “Jangan bergerak! Uang ini semua milik Negara. Hidup anda adalah milik anda.”

Semua orang di banking hall kemudian tiarap. Hal ini disebut “Mind changing concept – Merubah cara berfikir.” Semua orang berhasil merubah cara berfikir dari cara yang biasa menjadi cara kreatif.

Salah satu nasabah yang sexy mencoba merayu perampok. Tetapi malah membuat perampok marah dan berteriak, “Yang sopan mbak!! Kami ini perampok bank bukan pemerkosa!” Hal ini disebut Fokus hanya pada pekerjaan sesuai prosedur yang diberikan.

Setelah selesai merampok bank dan kembali ke rumah, perampok muda yang lulusan MBA dari universitas terkenal berkata kepada perampok tua yang hanya lulusan SD, “Bang, sekarang kita hitung hasil rampokan kita.” Perampok tua yang lulusan SD menjawab, “Dasar bodoh. Uang yang kita rampok banyak, repot menghitungnya. Kita tunggu saja berita TV, pasti ada berita mengenai jumlah uang yang kita rampok.” Hal ini disebut “Experience – Pengalaman.” Pengalaman lebih penting daripada selembar ijazah dari universitas.

Sementara di bank yang di rampok, si Manajer bank berkata kepada Kepala Cabangnya untuk segera lapor ke polisi. Tapi Kepala Cabang berkata, “Tunggu dulu, kita ambil dulu 80 miliar untuk kita bagi dua. Nanti totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.” Hal ini disebut “Swim with the tide – Ikuti arus.” Mengubah situasi yang sulit menjadi keuntungan pribadi.

Kemudian Kepala Cabangnya berkata, “Alangkah indahnya jika terjadi perampokan tiap bulan.” Hal ini disebut “Killing boredom – Menghilangkan kebosanan.” Kebahagian pribadi jauh lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, berita di TV melaporkan uang 100 Miliar dirampok dari bank. Perampok menghitung uang rampokan dan perampok sangat murka, “Kita susah payah merampok cuma dapat 20 Miliar, orang bank tanpa usaha dapat 80 Miliar…!!"

# Cerita diatas hanyalah sebuah contoh dari ilmu management, ambil sisi positif dan ilmunya... Jangan tiru sisi negatif, perampokan dan korupsinya  ya...  #


Baca Selengkapya... »»  
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Belajar Dari Jam Dinding : Arti Nafas Kehidupan

by : Unknown | Time : 23.6.13 Label: Inspirasi


Pada waktu kita memasukkan sebuah Baterai kedalam sebuah Jam Dinding , maka Jam Dinding itu mulai bekerja menjalankan tugasnya...

Detik demi detik.., menit demi menit.., jam demi jam.., ia terus bekerja sampai Baterai itu habis ia terus bekerja dan bekerja...

Jam dinding itu bekerja tanpa pamrih : dilihat orang atau tidak , ia tetap berdenting.., dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar.., walaupun tak seorangpun mengucapkan terima kasih, ia tetap bekerja...

Pada waktu bekerja, ia tetap menyuarakan KEBENARAN ; ia selalu bicara apa adanya..., ketika jarum menunjukkan angka enam..., iapun berbunyi enam kali..., saat menunjukkan jam sembilan..., iapun berbunyi sembilan kali..., dan begitu seterusnya..., tanpa dilebihkan atau dikurangi sedikitpun juga...

Ketika Tuhan menciptakan manusia, Ia juga memberi 'Baterai', yaitu Nafas Kehidupan , dengan maksud agar kita bisa bekerja dan berkarya serta menjadi berkat bagi sesama, seperti halnya Jam Dinding tadi...

Selama 'Baterai' itu masih berfungsi, biarlah kita mau terus melakukan hal2 yang baik dan berguna bagi sesama...

Tidak usah memusingkan diri dengan pujian dan penghargaan.., sekalipun hal-hal baik yang kita lakukan tidak dilihat dan tidak dihargai oleh orang lain, kita harus terus melakukannya...

"Karena Tuhan tidak pernah menutup mata, Dia akan menghargai dan memberi upah kepada orang2 yang dengan setia menjalankan Tugas dengan sebaik-baiknya."


Baca Selengkapya... »»  
2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Setiap Langkah Adalah Anugerah

by : Unknown | Time : 23.6.13 Label: Inspirasi


Kisah Motivasi - Alkisah ada Seorang profesor (prof) bertemu dengan seorang prajurit yang tidak mungkin dilupakannya, Ralph. Saat berjalan, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu wanita tua yang kopernya jatuh & terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Namun ia selalu kembali ke sisi sang prof dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?" tanya sang prof."Melakukan apa?" tanya Ralph."Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?" desak prof."Oh", kata Ralph, "Selama perang... Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal." Lalu ia berkisah tentang tugasnya di Vietnam, juga tentang saat membersihkan ladang ranjau & bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah,.... Kita tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir?" Sehingga dia belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup ia lakukan tatkala mengangkat & memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya. Setiap langkah yang dia ayunkan merupakan sebuah dunia baru. Sejak saat itulah ia menjalani kehidupan seperti ini.

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain. Jadi, nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Kekayaan manusia bukan dari apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.


"Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Tapi sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..."


Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda & bersyukurlah setiap saat.

Salam Sukses


Baca Selengkapya... »»  
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Rabu, 19 Juni 2013

Masa Depan adalah Misteri - Kisah Nyata Seorang Pekerja Keras yang Mengispirasi

by : Unknown | Time : 19.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan


Saya masih ingat tentang sahabat yang kini hanya menjadi bagian dalam sejarah hidup saya. Usia kami masih sangat muda saat itu. Kami berjuang bersama-sama untuk kuliah hingga ia lulus terlebih dahulu. Sebagai seseorang yang terlahir dari ekonomi kelas bawah, menggapai pendidikan lebih tinggi adalah harapan untuk mengubah takdir kami. Dalam pikiran saya atau sahabat saya, dengan mempunyai gelar yang tidak hanya SMA kami akan dapat hidup lebih baik dari saat ini. Sahabatku, bernama Fendy

Usia kami berbeda 2 tahun. Kami berkenalan saat bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan komputer. Sebagai penjaga gudang, saya berkenalan dengan dia yang sering bertugas untuk mengambil barang di gudang dan selalu bicara dengan saya. Suatu ketika, saat menunggu barang. Ia menyapa saya dan saat itu kami berkenalan. Saya terkejut ternyata usia kami tidak jauh berbeda, dan lebih hebatnya lagi ia kuliah sambil bekerja. Saya pun bertanya padanya.

“ Untuk apa kamu kuliah, bukannya tujuan seseorang kuliah itu untuk bekerja, kamu kan sudah kerja? Untuk apa lagi kuliah?”

“ Dengan pendidikan lebih tinggi, kita akan dihargai lebih tinggi kebanding seorang lulusan SMA, memangnya kamu puas hanya dengan pendidikan segini dan gaji segini, bila kamu kuliah lebih tinggi kamu akan dapat lebih baik kan?”

Saya menangkap baik-baik kalimat darinya dan termovitasi untuk mengikuti caranya, akhirnya ia menyarankan saya untuk menyimpan uang gaji saya sebagai simpanan untuk kuliah di universitas yang murah tapi berkualitas. Fendy, jauh-jauh dari kampungnya di Solo. Bekerja di Jakarta dan melakukan apa saja untuk hidupnya, ia ingin membuat orang tuanya bahagia dan bermimpi kelak menjadi orang sukses di Jakarta. Saya pun menjadikan dia sahabat dalam bertukar pikiran. Hingga akhirnya, setahun kemudian saya kuliah ditempat yang sama dengannya.

Kuliah sambil bekerja adalah sebuah pilihan yang sulit dan melelahkan, itu yang saya rasakan setahun belakangan setelah duduk sebagai mahasiswa. Tapi bagi Fendy, itu tidak akan cukup hanya bekerja sebagai pegawai di kantoran, ia juga melakukan pekerjaan sebagai perantara jual beli apapun yang bisa ia jual seperti mainan, pulsa hingga motor bekas. Melihatnya bekerja begitu giat saya jadi geleng-geleng kepala, apakah tubuhnya terbuat dari baja sehingga waktunya beristirahat hanya 3-5 jam sehari sebelum masuk pagi untuk bekerja di kantor yang sama dengan saya.

Seiring waktu berjalan, ia lulus dari bangku kuliah sedangkan saya masih kuliah. Kami tetap bekerja di tempat yang sama dan ia menghabiskan masa selesai kuliahnya sebagai pekerja penghitung uang di sebuah Bank, berkerja hingga larut malam. Suatu ketika disaat dia mengajak saya makan malam, saya bertanya padanya:

“ Fen, kamu kerja begitu giat, memangnya hasilnya untuk kamu tabung atau gimana sih?”

“ Uang yang saya hasilkan, sebagian saya tabung untuk kuliah s2 nanti, sebagian untuk orang tua di kampung dan biaya pendidikn adik saya yang masih sekolah.”

“ Lalu untuk masa depan kamu sendiri bagaimana?”

Dengan tersenyum ia menjawab. “ Untuk masa depan saya, setelah saya melihat adik dan keluarga saya bahagia dulu, baru saya pikirkan.”

Saya hanya tersenyum, merasa iri dalam hati, bagaimana orang seperti ini bisa berpikir tentang keluarganya sebagai bagian utama sedangkan dirinya sendiri belum ia pikirkan?

Suatu ketika, ia mengajak saya berkunjung ke rumah orang tuanya di solo, karena saya sedang libur dan mendapatkan cuti kerja yang sama dengan dia, akhirnya saya pun ikut dengan dia ke kampung. Melihat rumahnya di kampung, ia berasal dari keluarga sederhana.

Lalu ia berkisah tentang impiannya untuk membawa orang tuanya naik haji, sebagai seorang non muslim saya tidak terlalu paham. Ia sadar hal yang berat untuk itu tapi ia sudah menabung sejak saat ini.
Yang membuat saya terkejut ia memberikan saya sebuah saran tentang bagaimana saya harus berpikir tentang diri saya sejak dini.

“ Andi kamu sudah punya asuransi?”

“ Buat apa itu?

“ Ya buat jaga-jaga kalau kamu sakit dan gimana-gimana kan terjamin untuk biayanya?”

“ Waduh saya mah, sehat-sehat aja kok. Kamu sendiri emang uda ikutan asuransi?”

“ Belum, tapi orang tua saya sudah saya ikut sertakan dalam asuransi syariah,.”

Dalam hati saya bingung, kenapa bukan dia yang diasuransikan malah kedua orang tuanya?

“ Ya, saya masih muda, uang saya baru cukup untuk membayar premi kedua orang tua saya, kalau ditambah saya berat dong, lagian saya masih harus kuliah s2 dan hidup di Jakarta”

“ Kenapa kamu suruh saya ikutan?”

“ Ya karena kamu belum nanggung siapa-siapa, ikutan untuk jaga-jaga, kalau saya cepat atau lambat akan ikut.”

“ Akan saya pikirkan” kata saya dalam hati.

Pembicaraan kami terputus dan saya menghabiskan liburan saya untuk berwisata di kampung sahabat saya di Solo.

***

Fendy beberapa minggu kemudian memutuskan untuk pindah kerja setelah mendapatkan tawaran yang lebih baik. Saya sedih harus melepasnya, tapi saya bisa paham mengapa ia harus pindah karena itulah tujuan manusia hidup, untuk mencari yang lebih baik. Ia tetap orang yang inspiratif dalam hidup saya, apalagi ia bilang ia mulai bekerja sebanyak mungkin karena sebentar lagi orang tuanya akan bisa mencapai mimpinya naik haji, berkat premi yang ia tabungkan di bank Syariah untuk naik haji. Saya turut senang mendengarkannya, ia anak berbakti tidak seperti saya yang masih suka melawan orang tua.

Empat bulan kemudian karena kesibukan saya menjelang ujian dan kerja, kami jadi tidak saling berkomunikasi. Saya melihat sebuah televisi dan melihat seorang bintang bulutangkis Indonesia, Susi susanti di televisi sedang membawakan iklan tentang bank Syariah, lah saya jadi bingung. Saya pikir produk syariah hanya untuk kaum muslim, ternyata non muslim pun berhak untuk menabung ataupun mengikuti produk yang bank Syariah keluarkan. Saya jadi teringat sahabat saya Fendy, sebab orang tuanya adalah nasabah produk tersebut. Saya jadi tertarik untuk tau lebih banyak tentang bank Syariah dan berkonsultasi dengan Fendy.

Ketika saya menelepon ke handphonenya, saya begitu terkejut bukan dia yang mengangkat tapi adiknya. Dengan nada sedih ia bicara kepada saya

“ Abang Fendy udah di sisi Tuhan, ia meninggal karena infeksi paru-paru dan hepatitis B yang sudah parah “

Saya terkejut dan langsung menarik nafas panjang-panjang berharap ini hanya mimpi, ternyata semua nyata, air mata saya tumpah ruah mendengar kepergian sahabat saya yang begitu mendadak. Fendy meninggal karena infeksi paru-paru, ia masuk ke rumah sakit dalam keadaan sudah sekarat. Saat itu terdengar suara sedih sang adik yang berkata kalau tabungan mereka sekeluarga tidak cukup untuk biaya dokter dan akhirnya sang kakak meminta untuk di pulangkan hingga akhirnya meninggal di rumahnya.

Oh.. Sahabatku Fendy yang malang, mengapa nasibnya begitu tragis? Saya tidak heran ia dekat dengan penyakit yang berbahaya dengan pekerjaannya yang setiap hari berkeliling diantara polusi tinggi di kota Jakarta dan lebih buruknya lagi tanpa lelah. Semuanya di mulai dari penyakit hepatitis B dan akhirnya menjalar ke paru-paru hingga akhirnya ia menyerah. Saya hanya bisa menangis dan merenungi semua yang terjadi dalam hidupnya. Andai saja ia terlahir lebih baik dari secara ekonomi, ia tidak akan seperti ini. Dunia ini begitu tidak adil. Walaupun ia telah pergi, ia pergi sebagai pahlawan untuk keluarganya, setelah ia mencapai semua mimpinya dengan memberangkatkan orangtuanya naik haji dan menyekolahkan adiknya sampai lulus.

Waktu pun menyadarkan saya secara perlahan tentang misteri kehidupan yang kapan saja bisa datang kepada siapapun umat manusia di bumi. Semua saya renungkan hingga suatu ketika saya terduduk sambil membaca Koran harian seperti biasanya di kantor. Terdapat sebuah kalimat asuransi jiwa. Teringat oleh saya, kalimat perbincangan dengan Fendy di masa lalu yang menyarankan saya untuk mengasuransikan diri saya untuk jaga-jaga, tak saya sangka apa yang ia katakan menyadarkan saya untuk lebih berpikir tentang masa depan. Saya pun semenjak saat itu berpikir untuk menjaga diri saya dengan asuransi.

Fendy sahabatku, kalau saja kamu lebih berpikir tentang dirimu dan mau membagi dirimu dengan sedikit rasa aman seperti yang kamu sarankan pada saya, mungkin saat ini kita masih bisa duduk bersama sambil menikmati kopi berdua, sebagai anak muda yang berharap mimpi besar di masa depan. Aku hanya bisa berdoa agar apa yang kamu katakan walau belum sempat kamu jalanin menyadarkan banyak orang seperti saya untuk berjanji lebih berpikir tentang keamaan diri sendiri sebagai masyarakat ekonomi bawah yang bisa tercekik oleh biaya kesehatan yang mahal.

Sahabat-sahabat sekalian, kisah kami adalah sebuah kisah nyata yang membuatku kini lebih peduli untuk menyarakan orang lain berpikir tentang dunia yang telah berubah dan susah ditebak. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, tidak akan pernah bisa kita tebak. Tapi kita bisa bersiap-siap untuk menjaga diri kita dengan asuransi jiwa sebab hidup adalah misteri Ilahi.

Semoga kisah ini menyadarkan kalian betapa pentingnya hidup bersama asuransi dan tanpa berpikir bahwa hidupmu adalah milikmu saat ini. Tidak sahabat, kita hidup untuk masa depan yang tak akan pernah bisa kita duga. Dan apa yang kita persiapkan saat ini adalah pintu untuk sedikit membuat kita lebih siap menjawab misteri kehidupan.

We Care About You,

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas 




Baca Selengkapya... »»  
2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Asuransi Bagi si Single, Perlukah?

by : Unknown | Time : 19.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Di era modern yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan globalisasi saat ini, dimana orang–orang cenderung menunda untuk berkomitmen membina hubungan pernikahan, disekitar kita akan mudah ditemui orang-orang yang memiliki status 'single'. Atau bahkan mungkin kita sendiri yang menyandang status tersebut.

Entah itu single karena memang baru lulus kuliah dan belum menikah, single karena memang belum menemukan jodohnya meskipun sudah cukup berumur, ataupun juga single karena pasangan yang dinikahinya meninggal, ataupun berpisah dengan pasangannya. Namun dibalik semua latar belakang status single tersebut, pertanyaan yang seringkali menggelitik adalah "perlukah seorang dengan status single memiliki asuransi?".

Bagi seorang single yang merupakan orang dewasa muda yang baru saja menyelesaikan studinya, hal pertama yang akan dilakukannya adalah mencari pekerjaan yang dirasa layak dan cocok dengan dasar ilmu dan ketrampilannya. Begitu mendapat pekerjaan yang diinginkan, orang tersebut akan bekerja dengan giat dengan harapan bisa segera memiliki kehidupan yang lebih mapan, sambil sebisa mungkin menyisihkan sebagian penghasilan yang ia dapatkan untuk ditabung.

Kenapa ditabung? Alasannya bermacam-macam. Ada yang menabung agar bisa bepergian ke tempat-tempat yang ia senangi, bisa segera membeli rumah dan tinggal terpisah dari orangtuanya, ada yang ingin bisa segera membeli mobil, ataupun menabung agar bisa segera menikah dengan pujaan hatinya, seperti yang dilakukan oleh sebagian besar orang. Perlukah si single ini memiliki asuransi?

Pada masa ini, si single cenderung belum memiliki pengeluaran yang cukup besar. Ia hanya bertanggung jawab untuk menghidupi diri sendiri, dengan asumsi ia tidak menanggung hidup orang lain lagi seperti adiknya yang masih sekolah misalnya. Bila yang ia tuju adalah jenjang pernikahan misalnya, si single harus menabung jumlah yang cukup besar agar bisa mengadakan pesta pernikahan yang layak.

Pada fase ini tawaran asuransi berbasis investasi unit link bisa ia kesampingkan, karena bila ingin menabung dengan dana yang tidak terlalu besar ada instrumen lain yang bisa ia ikuti seperti reksadana ataupun dengan membeli emas. Namun perlu diingat, dalam perjalanannya menabung itu bukan berarti ia menjadi manusia super. Tetap saja si single tidak pernah bisa terbebas dari kejadian tidak enak seperti terkena penyakit kritis ataupun kecelakaan yang mengakibatkan bisa jadi tidak hanya uang yang ia tabung jadi berhenti, tapi bisa jadi yang sudah ia tabung selama ini harus habis untuk membayar kejadian yang menimpanya, dan pada akhirnya impiannya untuk segera bersanding di pelaminan jadi buyar.

Jadi bagi para lajang yang merupakan kaum dewasa muda, bila Anda merasa asuransi unit link kurang nendang dalam hal memberikan imbal hasil, Anda bisa menggunakan cara lainnya. Tapi pastikan impian-impian seperti menikah dan memiliki rumah sendiri tidak pupus. Caranya adalah dengan membeli asuransi jiwa berjangka yang dapat diperbaharui apabila sudah jatuh tempo.

Ada lagi orang-orang yang bahkan mungkin sudah memasuki usia senja namun tetap berstatus single. Entah itu memang belum menemukan tambatan hati yang cocok, atau memang memutuskan untuk tidak menikah. Pada kondisi seperti ini, orang tersebut biasanya sudah tidak memiliki hasrat yang terlalu kuat untuk mengejar hal-hal yang bersifat duniawi ataupun kebendaan.

Hal ini karena pada usia mereka, secara ekonomi orang-orang ini sudah berada dalam posisi yang relatif mapan. Mereka sudah memiliki rumah, ataupun bila belum maka tidak akan terlalu ngotot untuk bisa memiliki rumah dan lebih menikmati tinggal di rumah kontrakan atau di kos-kosan. Tidak ada rencana untuk menikah, dan bila mereka meninggal pun tidak ada anak atau pasangan yang akan diwarisi harta kekayaannya, karena memang mereka tidak menikah. Tabungan yang ada sebatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta untuk bepergian ke tempat yang mereka sukai. Jadi masih perlukah mereka memiliki asuransi?

Sama halnya dengan para single yang berusia muda, single di usia senja pun tidak akan pernah kebal dari hal-hal yang tidak mengenakkan seperti penyakit kritis ataupun kecelakaan, dan mereka tidak akan pernah tahu bila akan terkena hal tersebut. Penyakit kritis seperti kanker terkenal sebagai bukan hanya penyakit yang membawa kematian, tapi juga membuat kanker alias kantong kering alias bokek bagi penderitanya. Begitu pula kecelakaan, kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana akan terjadi pada kita.

Jadi, daripada uang yang ditabung habis untuk membiayai pengobatan kita, lebih baik perusahaan asuransi saja yang membayarkan biaya pengobatan tersebut, sehingga uang tabungan kita tetap bisa digunakan untuk jalan-jalan ataupun menikmati hal lain di masa tua. Asuransi whole life baik yang bersifat tradisional maupun berbasis investasi unit link dapat dijadikan pilihan dalam hal ini. Terlebih lagi bagi beberapa suku yang ada di Indonesia, di mana upacara penguburan jenazah memakan biaya yang sangat besar, uang pertanggungan dari asuransi dapat dimanfaatkan untuk mengurangi besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Memang si single tidak perlu mewariskan hartanya ke pasangan ataupun anaknya karena memang ia tidak memiliki ahli waris langsung, namun paling tidak ia bisa membantu meringkankan biaya yang dikeluarkan oleh orang lain yang mengurus pemakaman jenazahnya.

Kemudian status single yang terakhir adalah single yang diakibatkan oleh meninggalnya sang pasangan ataupun karena bercerai. Pada kondisi ini keadaan akan menjadi lebih rumit apabila kemudian si single ini memiliki anak yang ikut dengannya dari hasil perkawinannya tersebut, yang biasa disebut dengan single parent. Pada kondisi ini si single harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, plus dia harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya, mulai dari kebutuhan makanan sampai pendidikannya. Apakah single seperti ini memerlukan asuransi?

Bila menyimak uraian diatas, secara sederhana apabila seorang single tanpa tanggungan anak saja tetap memerlukan asuransi, apalagi untuk seorang single dengan tanggungan anak. Selain harus bisa memenuhi kebutuhan dirinya bila terjadi hal yang tidak mengenakkan pada dirinya, si single ini pun harus memikirkan kelangsungan hidup anak yang ditanggungnya apabila ia sebagai seorang pencari nafkah utama tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibannya.

Karena meskipun ia sudah tidak mampu lagi mencari nafkah, anak-anaknya tetap harus makan dan bersekolah. Maka asuransi sangat diperlukan bagi single pada kondisi ini. Selain sebagai proteksi finansial bagi dirinya sendiri, ia harus memastikan bahwa anak-anaknya tidak terlantar meskipun ia tidak ada sekalipun. Produk asuransi dengan basis investasi unit link maupun yang tradisional bisa menjadi pilihan dalam hal ini, tergantung dari keinginan dan kebutuhan kita masing-masing.

Jadi pada hakikatnya asuransi itu dibutuhkan tidak hanya oleh orang yang sudah berkeluarga saja, tetapi dibutuhkan juga orang yang menyandang status single. Karena kita tidak akan pernah bisa menghindar dari yang namanya sakit kritis, kecelakaan, menderita cacat, meninggal ataupun menjadi tua. Kita pun tidak pernah tahu kapan hal-hal tidak mengenakkan tersebut menyapa kita, sehingga kita harus memproteksinya dengan asuransi.

Melayani dengan tulus....

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Masih Muda Perlukah Asuransi?

by : Unknown | Time : 19.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Mungkin sebagian dari anda yang masih berusia muda dan baru mulai bekerja pernah ditawari untuk ikut asuransi. Memang sih, preminya tidak terlalu mahal, cuma sekitar Rp.150.000 - 500.000 per bulan. Tidak terlalu berat untuk anda walaupun gaji anda juga tidak terlalu besar karena baru mulai bekerja.

Yang jadi masalah, pasti ada teman-teman di kantor anda yang menyarankan untuk tidak ikut asuransi. Alasannya, usia anda masih muda, jadi tidak ada untungnya ikut-ikutan asuransi. Nah, bagaimana menurut anda sendiri, perlu atau tidak anda ikut asuransi? Kalau memang perlu, asuransi apa saja, dan kenapa?

Nah sebelum membahas pertanyaan tersebut, mungkin ada baiknya kalau membahas dulu tentang apa itu asuransi. Asuransi adalah suatu produk yang pada intinya memberikan layanan perlindungan atas resiko yang mungkin bisa terjadi pada diri, barang, atau harta yang kita miliki. Artinya, kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan (musibah misalnya) pada diri atau harta kita, maka asuransi akan menanggung semua resiko atas kerugian yang terjadi. Tentunya bila kita telah mengasuransikan diri atau harta kita.

Nah karena kita tidak bisa meramalkan dengan pasti kapan kita akan mengalami musibah, atau betulkah kita akan mengalami resiko, maka alangkah bijaksananya jika kita mengantisipasi kerugian uang yang mungkin muncul akibat resiko itu.

Jadi, berapapun usia Anda tidak berpengaruh terhadap pengambilan asuransi karena yang namanya musibah tidak akan lihat-lihat umur. Dan untuk Anda tahu, makin muda Anda mengambil asuransi, biasanya makin kecil pula premi yang harus Anda bayar. Padahal Uang Pertanggungan yang didapat mungkin sudah lumayan besar.

Pertanyaannya sekarang, apa saja sih asuransi yang sebaiknya dimiliki? Nah, karena yang namanya risiko bisa terjadi pada diri dan harta kita, maka tentunya yang paling pas adalah kalau Anda melindungi semua yang Anda miliki baik itu diri maupun harta. Okelah, untuk melindungi harta mungkin Anda belum begitu perlu, karena mungkin harta Anda juga belum begitu banyak,bukan? Tapi untuk diri sendiri, Anda bisa memulainya dengan Asuransi Kesehatan bila memang urusan kesehatan tidak di-cover kantor. Nah, kalau resiko kesehatan sudah dicover oleh kantor, maka Anda bisa memulai dengan membuka asuransi jiwa.

Kalau bicara soal asuransi jiwa, saat ini ada 2 jenis asuransi jiwa yang bisa Anda pilih, yaitu asuransi jiwa konvensional dan asuransi jiwa modern. Asuransi jiwa konvensional hanya menjual perlindungan yaitu proteksi atas jiwa, sementara asuransi jiwa modern selain menjual proteksi juga menawarkan investasi. Artinya selain mendapatkan perlindungan atas jiwa kita, kita juga mendapatkan hasil investasi dari sebagian setoran premi kita.

Nah mana yang harus Anda pilih? Semuanya tergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi Anda sendiri. Pilih mana yang paling tepat untuk Anda.

Sama seperti sepeda, misalnya. Sepeda balap dan sepeda mini adalah alat transportasi yang baik. Tapi pemilihan sepeda balap atau sepeda mini sebagai alat tunggangan kita dalam melakukan perjalanan tentunya didukung oleh kebutuhan, situasi dan kondisi kita sendiri. Bukankah begitu? Nah semoga jawaban tersebut dapat membantu anda, apakah perlu untuk mulai berasuransi atau tidak...

Melayani dengan tulus,

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas 



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Menentukan Nasib Jadi Kaya Atau Miskin

by : Unknown | Time : 19.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Banyak orang bilang bahwa nasib itu di tangan Tuhan. Sebenarnya itu adalah sebuah statement yang keliru karena urusan nasib itu adalah urusan kita sebagai manusia. Kita mau menjadi kaya ataupun sebaliknya menjadi miskin bisa kita pilih sebagai nasib kita.

Seorang filsuf pernah berkata “anda adalah apa yang anda pikirkan” dan oleh Stephen Covey diterjemahkan menjadi “begin with the end in mind” yang artinya segala sesuatu diciptakan 2 kali yaitu pertama melalui pikiran dan kedua melalui tindakan.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa nasib kita tergantung kepada apa yang ada dalam pikiran kita. Orang yang berpikiran positif atau benar maka akan menciptakan kebiasaan dan tindakan yang benar dan berujung pada nasib yang benar sedangkan sebaliknya orang yang selalu berpikiran negatif atau salah maka akan menciptakan kebiasaan dan tindakan yang salah dan berujung pada nasib yang salah.

Nah sekarang kalau berbicara nasib tentang kaya atau miskin semuanya berawal dari pikiran anda tentang uang atau kekayaan itu sendiri. Saya mempunyai sebuah test yang sangat sederhana dan sedikit banyak mampu meramal nasib kita akan menjadi orang kaya atau menjadi orang miskin.

Mari berimajinasi dalam pikiran anda, bila saat ini anda mendapatkan uang sebesar 20 juta maka apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika anda memiliki uang tersebut. Anda mau gunakan untuk apa uang tersebut atau anda mau beli apa dengan uang 20 juta tersebut ? Anda memiliki kebebasan dengan uang 20 juta tersebut dan anda harus menghabiskannya dalam waktu yang singkat. Silakan ambil waktu sejenak untuk merenung dan berimajinasi apa yang akan anda lakukan dengan uang 20 juta itu.

Apa yang terlintas dalam pikiran anda dapat meramalkan anda akan menjadi kaya atau menjadi miskin. Ketika anda berpikir untuk membelanjakan uang 20 juta tersebut untuk kebutuhan konsumtif misalkan membeli handphone, notebook, jalan-jalan, baju, gaun, kemeja, celana, tas, sepatu, motor, play station, televisi, sound system atau membayar hutang maka kecenderungan nasib anda akan menjadi miskin.

Apabila yang terlintas dalam pikiran anda uang 20 juta tersebut digunakan untuk ditabung, didepositokan, dibelikan emas, dibelikan sapi, dibelikan kambing, dijadikan DP rumah, dijadikan DP tanah, digunakan sebagai modal usaha, dibelikan obligasi, dibelikan saham, dibelikan asuransi atau dibelikan reksadana maka kecenderungan nasib anda akan menjadi kaya.

Loh koq bisa begitu mudahnya menentukan nasib kita? Iya karena dari riset diketahui bahwa cara berpikir orang-orang kaya ketika mendapatkan uang adalah “bagaimana caranya membuat uang yang diterima tersebut menjadi semakin banyak jumlahnya” sedangkan cara berpikir orang-orang miskin ketika mendapatkan uang adalah “bagaimana cara menghabiskan uang tersebut”.

Nah ketika anda diberikan uang 20 juta tersebut apa yang anda pikirkan ? Apakah anda berpikir “bagaimana membuat uang itu semakin bertambah banyak” atau anda berpikir “bagaimana cara menghabiskan uang tersebut?" Itulah kecenderungan nasib anda di masa depan.


Baca Selengkapya... »»  
2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Minggu, 16 Juni 2013

Financial Freedom - Kerja Sebagai Pegawai Atau Bisnis Sendiri ?

by : Unknown | Time : 16.6.13 Label: Bisnis



Kerja sebagai seorang karyawan
Harus bekerja keras dan terikat pada waktu. Sedangkan penghasilan tidak sepadan dengan kerja yang kita lakukan. Jenjang karir pun tidak jelas tergantung Perusahaannya. Tidak ada kepastian kapan kita akan naik gaji atau naik jabatan. Kapan saja kita bisa dipecat, yang mengakibatkan keluarga menghadapi kesulitan keuangan.
                                                        Apakah itu yg anda harapkan?

Membuka bisnis sendiri ( konvensional )
Memerlukan modal yang besar dan resiko yang besar pula, berpotensi berpenghasilan besar. Tetapi tidak semua orang dapat sukses di bisnis sendiri. 10 orang membuka restoran, belum tentu semuanya bisa sukses. Malah tak jarang semuanya ga ada 1 pun yg sukses. Apalagi zaman sekarang semua orang berlomba-lomba membuka usaha sendiri. Jadi bisa anda bayangkan sendiri, jika semua org membuka usaha, maka siapa yang akan jadi pembelinya? Itulah sebabnya kenapa zaman sekarang toko-toko pada sepi.
               Kira-kira jika bisnis sendiri lebih besar resiko kerugian atau keuntungannya?


Jadi, apakah di zaman sekarang ada sebuah peluang bisnis yang nyaris tanpa modal dan resiko mendekati 0?? Namun potensi penghasilannya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta/bulan??

Ada, jawabannya cuma 1 "lakukan bisnis yang hampir tidak ada orang yang mau melakukannya, bisnis yg menjadi kebutuhan orang banyak dari tua, muda, kaya & miskin."

Anda penasaran?? Jangan ragu untuk bertanya..

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas


 
Baca Selengkapya... »»  
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Tipu Daya Uang Kartal

by : Unknown | Time : 16.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan


Belajar Financial - Ketika menggunakan uang kartal sebagai acuan atau patokan nilai maka terjadi hal-hal berikut :
¤ Harga-harga naik padahal pada hakikatnya tetap atau turun
¤ Gaji/penghasilan naik padahal pada hakikatnya turun
¤ Kondisi makin makmur padahal makin miskin

1.) Harga-Harga Naik Padahal Pada Hakikatnya Tetap atau Turun

Setiap orang pasti merasakan naiknya harga-harga barang. Di sekolah dan media-media diberitahukan kalau kenaikan ini terjadi karena inflasi (harga barang naik). Sebenarnya lebih tepatnya bukan harga barang naik tapi daya beli uang kartal yang kita pegang turun.

Sebagai contoh: Kita ambil perbandingan Ongkos Naik Haji/ ONH yang dikoversikan ke mata uang Dinar
ONH tahun 1996 » Rp.7.500.000 / 66Dinar
ONH tahun 2010 » Rp.27.000.000 / 27Dinar
Kita lihat seolah2 harga barang/kebutuhan/biaya naik sekitar 493% jika kita jadikan rupiah sebagai acuan.
# Padahal pada kenyataannya sebenarnya harga barang/kebutuhan/biaya turun sekitar 59% #

2.) Gaji/Penghasilan Naik Padahal Pada Hakikatnya Turun

Pendapatan seseorang naik dalam rupiah tapi ketika dikonversi ke emas pendapatannya malah turun. Inilah sistem keuangan sekuler yang menipu dengan uang kartalnya.

Dalam sistem ekonomi sekuler, kenaikkan upah tidak sebanding dengan Inflasi (daya beli uang) sehingga terjebak ke dalam permasalahan yang tidak ada ujung pangkalnya (krisis ekonomi).

Sebagai bukti:

Thn 1975 harga emas Rp.2000/gr
Thn 2010 harga emas Rp.300.000/gr -» Inflasi

¤ Thn 1975 gaji pembantu Rp.20.000/bln (10gr emas), gaji pegawai swasta Rp.400.000/bln (200gr emas).
¤ Thn 2010 gaji pembantu Rp.300.000/bln (1gr emas), gaji pegawai swasta Rp.3.000.000/bln (10gr emas).
# Jadi sebenarnya gaji kita naik/ turun? #

3.) Kondisi makin makmur padahal makin miskin

Untuk yang satu ini kayaknya tidak perlu dijelaskan lagi. Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita sudah banyak melihat contohnya. Gaji kita semakin besar dalam arti kata kondisi kita makin makmur. Tapi pada kenyataannya kita semakin miskin dan tercekik oleh kondisi perekonomian.

Kalau parameter suatu sistem salah maka keseluruhan sistem akan salah. Bijaklah dalam mengelola keuangan anda.

Menurut anda bagaimana jika anda terus bekerja pada orang lain? Bukankah anda akan semakin tercekik oleh perekonomian?

Jika tidak bekerja pada orang lain, anda harus mulai membuka usaha sendiri atau mulai melakukan investasi?

Jika anda tidak berani mengambil resiko untuk memulai usaha atau berinvestasi, Lalu apa yg harus anda lakukan untuk menghadapi kondisi perekonomian yg semakin sulit?

Silakan berkonsultasi dengan kami, kami akan berusaha memberikan anda solusi yang terbaik dalam hal :
¤ Peningkatan pendapatan setiap bulannya
¤ Cara mengatasi segala macam bentuk resiko kehidupan
¤ Cara pengelolaan tabungan untuk menghadapi inflasi

Melayani dengan tulus...

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Perencanaan Keuangan: Mengejar Inflasi Dengan Berhitung Secara Cermat

by : Unknown | Time : 16.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Pada tahun 1975 harga sebutir telur Rp 10, kemudian pada tahun 1985 harga sebutir telur naik menjadi Rp 100 dan pada tahun 2010 harga sebutir telur naik lagi menjadi Rp 1000. Padahal telur itu ya tetap, tidak berubah-ubah tapi koq kenapa harganya jadi berubah jadi naik terus?

Kira-kira berapa harga 1 butir telur 5 atau 10 tahun ke depan?

Yakinkah anda, bunga dari tabungan anda bisa mengejar nilai inflasi? Atau daya beli tabungan anda akan semakin menurun dari tahun ke tahun?

Kira-kira apa yang akan terjadi dengan segala rencana yang sudah anda persiapkan? (Mis: dana pendidikan, biaya resiko, dana ibadah / liburan, dana pensiun, dll)

Sadarkah anda jika uang anda ditabung dalam tabungan konvensional dengan bunga sebesar 3% per tahun atau didepositokan dengan bunga sekitar 5% per tahun, maka bisa dipastikan cara menabung anda akan membuat anda semakin miskin secara financial.

Lalu bagaimana caranya mengejar nilai inflasi agar segala rencana kita bisa terlaksana?

Free Consultation:
PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas 



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Mengapa Kita Tidak Bisa Menabung?

by : Unknown | Time : 16.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan


Belajar Financial - Dalam sebuah training seorang Financial Planner bertanya kepada para peserta : “Berapa besar uang yang anda tabung setiap bulannya ?”

Begitu banyak versi jawaban dari para peserta tapi muncul sebuah celetukan yang berkata “Boro-boro nabung pak, untuk hidup saja sudah pas-pasan bahkan tidak cukup!”

Financial Planner (FP) : Siapa saja di antara kalian yang tidak mempunyai kebiasaan menabung setiap bulannya ?

Hampir setengah peserta mengangkat tangannya.

FP : Mengapa anda tidak menabung setiap bulannya ?

Budi : Ya itu pak seperti kata teman saya tadi “boro-boro nabung, untuk hidup saja sudah pas-pasan bahkan tidak cukup!”

FP : Baik sekarang saya mau bertanya kepada anda “Menurut anda, bagaimana prinsip menabung yang anda ketahui?

Budi : Kalau saya setiap awal bulan akan mengalokasikan pos-pos pengeluaran yang saya perlukan di bulan tersebut termasuk membayar hutang-hutang yang ada dan apabila ada sisa itulah yang akan saya tabung. Tetapi masalahnya setiap bulan nyaris tidak ada sisa bahkan tidak jarang tekor.

FP : Hehehe, ya itulah pak yang menyebabkan mengapa Bapak tidak bisa menabung karena mindset atau prinsip Bapak keliru. Prinsip yang benar menabung itu bukan dari sisa penghasilan tapi sudah dianggarkan paling awal berapa yang harus saya sisihkan untuk saya tabung selebihnya baru dibagi untuk pengeluaran-pengeluaran yang diperlukan.

Syamsul : Iya ya benar juga ya saya prinsipnya menabung itu di belakang bukan di depan padahal yang benar itu di depan ya sesuai dengan istilah kerennya pay yourself first ?

FP : Benar menabung itu prinsipnya di depan atau yang dikatakan tadi dengan istilah pay yourself first. Mengapa ? Karena ada sebuah hukum keuangan yang berlaku universal yang dikenal dengan Hukum Parkinson. Hukum tersebut berkata bahwa berapapun penghasilan yang didapatkan oleh seseorang maka akan dikejar oleh pengeluarannya. Artinya kalau anda penghasilannya 1 juta maka pengeluaran anda akan mendekati atau melebihi 1 juta dan ketika anda mendapatkan kenaikan penghasilan menjadi 3 juta maka pengeluaran anda akan ikut menjadi 3 juta sehingga sampai kapanpun anda kecenderungannya tidak akan memiliki sisa yang cukup banyak untuk ditabung.

Syamsul : Artinya pengeluaran semakin bertambah seiring bertambahnya jumlah penghasilan ?

FP : Tepat sekali dan inilah yang mengakibatkan banyak orang yang tidak mampu menabung karena pengeluaran mereka pasti mendekati atau bahkan melebihi penghasilan mereka berapapun jumlah penghasilannya.

Budi : Lalu bagaimana yang harus kami lakukan sebenarnya ?

FP : Ambil sekian persen dari gaji anda kemudian tabung atau investasikan dan sisanya baru anda atur sedemikian rupa untuk pengeluaran anda hingga mencukupi.

Syamsul : Berapa idealnya yang harus kami sisihkan untuk tabungan tersebut ?

FP : Terserah mau mulai dari berapa persen pada awalnya, sesuaikan dengan kemampuan finansial anda kemudian secara bertahap tingkatkan hingga 10-30% dari total pendapatan bulanan anda. Kalau prinsip atau mentalitas ini anda lakukan maka tidak ada istilah tidak bisa menabung bukan ?

Syamsul : Ya…ya…ya saya sangat setuju dan hal ini akan saya jadikan sebuah resolusi dalam hidup saya dan keluarga untuk menjadi lebih baik dan lebih bahagia.

Mengapa orang tidak mampu menabung ? Sebenarnya bukan masalah besar penghasilannya tetapi lebih kepada prinsip atau mindset menabung yang keliru. Jadi rubah mindset anda maka akan berubahlah hidup anda.

Salam Sukses



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Menabung, Masih Perlukah?

by : Unknown | Time : 16.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Belajar Financial - Akui saja, rekening tabungan kita hanya tempat parkir dana setelah gajian, lalu habis tersebar untuk membayar tagihan ini-itu, mulai kartu kredit hingga urusan rumah seperti listrik dan air. Katakanlah ada dana tersisa, apakah kita bisa mengharapkan dana tersebut berkembang dan berguna untuk berbagai kebutuhan?

Sudah jamak kita dengarkan para Financial Planner mengatakan: “Jika untuk tujuan meraih masa depan, jangan menabung, tapi berinvestasilah”. Nasihat itu sudah cukup untuk membuat kita berpikir ulang: "Benarkah menabung masih diperlukan?"

90% orang sukses menyarankan: "Jangan pernah menjadikan tabungan sebagai prioritas anda. Habiskanlah semua jatah tabungan anda untuk berinvestasi!"

Dengan perencanaan keuangan bulanan yang tepat, apalagi dengan ikut layanan one-bill di beberapa bank (alokasi pembayaran otomatis yang diambil dari rekening kita setiap bulan), saving yang memadai bisa kita set per bulan. Tinggal pertanyaannya: Diletakkan dimana dana lebih tersebut?

Sebagian orang yang memaksakan diri dan ‘terlanjur’ menyimpan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito di bank, apalagi bertahun lamanya, hanya menikmati kenaikan 6-7% dari dana yang ia simpan, sementara inflasi kebutuhan pokok, pendidikan dan transportasi terinflasi minimal 10%/thn. Setiap tahun masyarakat yang menabung ‘MAKIN MISKIN’ 3-4% karena daya beli uang yang ia simpan terus turun.

Sebetulnya dana tabungan bisa juga berfungsi untuk dana darurat. Syaratnya adalah alokasinya cukup (dana tersedia sejumlah 6 – 12x belanja bulanan) dan liquid atau mudah dicairkan. Jika untuk syarat ini, maka menyimpan dana (saving) dalam logam mulia sangatlah menjanjikan. Bahkan tidak hanya berfungsi untuk menabung, logam mulia terutama emas juga berfungsi sebagai investasi. Mengalahkan ‘investasi sungguhan’ yang banyak ditawarkan sebagai produk keuangan seperti deposito, reksadana dan obligasi retail. Dengan kenaikan rata-rata 15-20% per tahun, liquid karena bisa digadaikan dan diperjual-belikan, emas (dan perak) adalah penyelamat aset dan hasil jerih payah kita.

Satu contoh tabungan yang juga digunakan untuk perencanaan masa depan adalah tabungan pendidikan. Sebagian orang yang lain mengambil juga asuransi pendidikan. Meski beberapa perencana keuangan tidak satu ide tentang pentingnya asuransi pendidikan bagi anak-anak karena fungsi dasar dari asuransi apapun adalah perlindungan atas resiko. Sehingga yang tepat adalah mengasuransikan orang tua terutama yang menjadi sumber pendapatan keluarga.

Sebenarnya untuk mempersiapkan dana pendidikan bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu:

(1) Bundling/ dibungkus bersama asuransi pendidikan,
(2) Tabungan biasa, dan
(3) Tabungan rencana.

Merencanakan tabungan pendidikan yang rasional adalah dengan menghitung dan membandingkan antara kenaikan biaya (inflasi) biaya pendidikan dengan kenaikan (tingkat hasil atau margin atau bunga) dari tabungan yang kita pilih. Kenaikan biaya pendidikan saat ini, baik di sekolah swasta maupun negeri, sama-sama ‘merisaukan’. Bagaimana mempersiapkannya?

Liberalisasi kebijakan pendidikan di level perguruan tinggi, persyaratan untuk sertifikasi sekolah internasional dan juga kenaikan biaya-biaya pada umumnya telah mendorong biaya masuk dan biaya bulanan sekolah naik rata-rata 15% per tahun. Berapa tingkat hasil/ kenaikan yang didapatkan dari tabungan pendidikan anak-anak kita? 5% atau 7%? Jika demikian, apakah benar tabungan kita bisa mengejar kenaikan biaya sekolah?

Mari hitung, biaya masuk salah satu Sekolah Dasar terbaik Jakarta sekitar Rp23.000.000. Jika si kecil baru lahir, berapa biaya sekolahnya 6 tahun lagi? Dengan asumsi naik 15% per tahun, maka biaya naik menjadi sekiar Rp53 juta. Apakah tabungan ‘biasa’ kita bisa mengejarnya? Kesalahan 5% perencanaan keuangan pendidikan anak untuk 15 tahun ke depan (misal untuk persiapan masuk perguruan tinggi) bisa menyebabkan ‘missed’ sebesar Rp1 Milyar.

Kita perlu langkah ‘TIDAK BIASA’ jika ingin merencanakan biaya pendidikan anak dengan lebih mudah. Salah satunya dengan menabung di asuransi atau berinvestasi emas. Karena naik diatas rata-rata inflasi berbagai kebutuhan, semisal Haji, Umroh, Pendidikan Anak mulai SD hingga Perguruan Tinggi serta Dana Pensiun maka emas & asuransi membuat perencanaan keuangan kita menjadi lebih mencapai sasaran. Emas naik rata-rata 20% per tahun, Sementara tabungan asuransi pendidikan naik rata-rata 18%/thn, sehingga ada surplus 5- 10% diatas kenaikan biaya pendidikan. Hitung ulang dengan case yang sama seperti di atas menggunakan rumus Future Value FV = PV*(1+r)^n  -> Untuk perhitungannya bisa dilihat di http://diarymedan.blogspot.com/2013/06/jangan-hanya-bisa-bertanya-kalo-sudah.html

Perbedaannya:

Jika kita berinvestasi di emas, 5 tahun kedepan kita mengalami resiko sakit, kecelakaan, cacat tetap atau meninggal, maka mau atau tidak kita harus mencairkan emas tersebut untuk kebutuhan pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Jadi otomatis dana pendidikan akan musnah.

Sementara jika kita berinvestasi di asuransi pendidikan, dan kita mengalami masalah resiko hidup yg sama, maka kita akan mendapatkan manfaat santunan dan pembebasan premi. Pembebasan premi yang dimaksud disini adalah anda tidak perlu melanjutkan pembayaran biaya asuransi, perusahaan yang akan melanjutkan pembayarannya malah anda akan diberikan dana sebesar premi anda setiap bulannya langsung ke tabungan pendidikan anda sampai anda mencapai usia 65thn. Jadi sudah bisa dipastikan dana pendidikan untuk buah hati anda tidak akan terganggu sama sekali.

Jadi masih perlukah anda menabung?

Atau anda akan menempuh cara yang dianggap "TIDAK BIASA" dengan berinvestasi?

Jika pilihan anda jatuh pada investasi, dimana anda akan meletakkan dana anda? Emas atau Asuransi Pendidikan?

Andalah sendiri yang menentukan masa depan buah hati anda.

Melayani dengan tulus,

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas 



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Jangan Jadikan Arisan Sebagai Sarana Menabung

by : Unknown | Time : 16.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Belajar Financial - Salah satu manfaat ikut arisan adalah menjalin pertemanan yang lebih luas dan solid. Beberapa orang menjadikan kegiatan ini sebagai alternatif untuk menabung. Namun sebaiknya jangan ikut kegiatan arisan apabila tujuan utamanya adalah menabung.

Apabila ingin menabung, sebaiknya ikutkan dana Anda di reksadana, disimpan dalam deposito atau tabungan bank. Setidaknya, nominal uang bisa bertambah ketimbang hanya ditabung lewat arisan.

Jika sudah terlanjur ikut arisan, keuntungan bisa tetap diperoleh walau kemungkinannya kecil apabila dikelola secara pintar. Dengan catatan, jika Anda mendapat arisan di urutan pertama atau kedua. Mendapat kocokan arisan di bulan-bulan awal bisa dibilang lebih beruntung ketimbang di akhir. Namun itu kembali lagi dari bagaimana cara Anda memanfaatkan uang tersebut. Uang arisan sebaiknya disimpan dalam bentuk deposito atau reksadana.

“Misalnya dapat arisan di bulan kedua kalau bisa memanfaatkan itu untuk suatu investasi yang bagus. Mungkin akan ada keuntungan. Karena setelah itu kita tinggal cicil di arisannya. Sementara uang yang sudah diinvest bertambah bunganya,” papar Financial Planner Lisa Soemarto saat berbincang dengan wolipop via telepon.

Lain halnya jika mempergunakan uang tersebut untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif. Seperti belanja tas, gadget atau pakaian. Ketika uang arisan itu terpakai, Anda masih punya kewajiban menyetor arisan tiap bulan. Ini berarti tidak ada manfaat keuangan yang didapat dari arisan. Terutama jika memang keuntungan finansial yang Anda harapkan.

Manfaat keuangan akan lebih sulit lagi untuk didapatkan apabila dapat nomor di urutan paling akhir. Dari segi ‘time value of money’, jumlah uang yang anda tabung dalam setahun tidak berkembang. Juga sulit untuk diambil apabila ada kebutuhan yang mendesak.

“Dapat di akhir, berarti dia nabung. Contoh ikut arisan setahun, tiap bulan satu juta. Dapatnya ya Rp 12 juta. Tiap hari sudah nyetor tapi nggak dapat bunganya. Coba kalau taruh di reksadana hasilnya mungkin bisa lebih dari Rp 12 juta,” terang Lisa.

Dia menambahkan, “Taruh di tabungan saja jumlahnya nggak RP 12 juta (bisa lebih) karena ada bunganya walaupun kecil. Kita kan maunya uang yang kita pegang saat ini di tahun depan jumlahnya nggak sama. Disebutnya time value of money,” terang Lisa.

Ikut arisan bukan berarti tak bermanfaat. Dengan kegiatan ini, jalinan pertemanan lebih luas, pengetahuan bertambah dan bisa memberi kesempatan untuk berbisnis atau membuka usaha dengan anggota arisan yang memiliki kesamaan visi. Sebagai ajang bergaul, arisan tentunya sangat bermanfaat dan kegiatan yang positif. Tapi bukan pilihan yang paling tepat jika berkaitan dengan peningkatan finansial.


Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Senin, 03 Juni 2013

The Miracle - Percaya Pada Impian Anda

by : Unknown | Time : 3.6.13 Label: Motivasi & Pengembangan Diri




Motivasi Sukses - Anda pernah menonton sebuah film dimana Anda bisa menontonnya untuk beberapa kali? Ya, mungkin. Salah satunya adalah film yang berjudul “Miracle”. Di dalamnya terdapat banyak sekali pesan. Impian, visi, komitmen, tujuan, semangat. Tetapi pesan yang paling menarik adalah PERCAYA.

Percayalah pada kemungkinan kehidupan. Percaya pada diri sendiri. Percayalah bahwa impian Anda, juga, bisa menjadi kenyataan.

Percayalah bahwa Anda layak untuk memiliki kehidupan terbaik yang ditawarkan. Percaya pada keindahan yang diberikan semesta. Percayalah bahwa alam semesta ingin Anda untuk memiliki segala sesuatu yang Anda inginkan. Percayalah pada keajaiban.

Itu semua dimulai dengan mimpi, sebuah visi yang lebih jelas. Kemudian fokuskan perhatian Anda pada visi itu sampai impian Anda menjadi sangat jelas dan Anda bisa melihatnya, merasakannya, mencium baunya, mengetahuinya. Seiring dengan visi tersebut, ambil tindakan yang konsisten dengan komitmen dan tekad untuk membawa impian Anda menjadi kenyataan. Dan kemudian biarkanlah keajaiban yang bekerja.

Setiap orang mempersiapkan diri secara mental, emosional, fisik, dan spiritual. Mereka tidak membiarkan kekecewaan atau tantangan berdiri di jalan mereka. Mereka bersedia melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai impian mereka.

Dan keajaiban terjadi.

Tagline di film yang berjudul “Field of Dreams”, perlu Anda ketahui, adalah “Jika ada percaya pada ketidakmungkinan, hal yang luar biasa akan menjadi kenyataan.”

Kadang-kadang kita lupa bahwa mujizat tidak selalu terjadi semalam. Kadang-kadang kita harus menunggu sampai impian kita menjadi kenyataan. Terlepas dari hambatan, kesulitan keuangan, keraguan, dan ketidakyakinannya pada ucapan orang lain yang menjatuhkan; seringkali hal-hal itu yang bisa membuat kita mengambil tindakan secara tegas sampai kita berhasil mencapai impian kita.

Ini adalah waktunya Anda percaya pada impian Anda, percaya pada ketidakterbatasan kehidupan, percaya pada diri sendiri dan tentunya juga percaya pada keajaiban.

Berhenti bertanya “Bagaimana jika” yang telah melumpuhkan Anda dan membunuh impian Anda di masa lalu. Mereka adalah keyakinan lama yang didasarkan pada kekurangan dan keterbatasan berpikir. Inilah yang kita sebut sebagai miskin kesadaran. Anda tidak menginginkan mereka dan tidak membutuhkan mereka.

Sebaliknya, pilihlah permainan yang berbeda dan pertimbangkan kemungkinan ini : Bagaimana jika alam semesta memiliki kemampuan untuk menciptakan kehidupan Anda berdasarkan apa yang Anda pilih untuk berpikir dan berbuat?

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk percaya:

• Pertama, percaya pada diri sendiri. Rayakan semua kesuksesan dalam hidup Anda; baik itu kesuksesan besar maupun kecil. Dukung dan dorong diri Anda dengan cara yang positif, penuh kasih, self-talk yang memperkuat keyakinan Anda bahwa Anda adalah manusia yang megah, layak memiliki yang terbaik dalam hidup.
• Berhubunganlah dengan impian Anda dan visi Anda. Luangkan waktu setiap hari untuk berfokus pada visi Anda sehingga visi dan impian Anda menjadi semakin besar dan Anda dapat melihatnya, merasakannya, merasakannya, menyentuhnya, mencium baunya, mengetahuinya.
• Cari tim / teman-teman yang percaya pada Anda dan akan mendukung Anda.
• Tetapkan tujuan Anda dan segera action!
• Mengharapkan keajaiban terjadi setiap hari dalam hidup Anda.
• Ketahuilah bahwa Anda layak mencapai impian Anda dan bahwa impian Anda akan segera datang menghampiri Anda!

PERCAYA!!! "Miracles Happen for those Who Believe"

So... siap untuk action sekarang?


Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kecewa Pada Asuransi?

by : Unknown | Time : 3.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan



Pernahkah Anda membeli mobil tanpa ban serep ? Hampir semua pembeli mobil akan meminta ban cadangan saat membeli mobil. Uniknya, di setiap mobil hanya ada satu ban serep, Padahal jumlah ban mobil ada empat, dan pemilik mobil tidak bisa menduga ban mana yang akan rusak. Pernahkah Anda mendengar ada pembeli mobil yang kecewa karena hanya ada satu ban cadangan di bagasinya?

Sama seperti ban serep ini, asuransi pada dasarnya membantu di saat seseorang ada di masa sulit. Tetapi sayangnya kebanyakan orang sering salah menilai asuransi. Mereka berharap asuransi dapat menyelesaikan semua atau sebagian besar masalah mereka saat mengajukan klaim. Alhasil mereka yang berharap seperti itu akan kecewa pada asuransi.

Asuransi adalah sebagian kecil dari perencanaan keuangan individu, keluarga, atau usaha. Dan dalam mengeluarkan anggaran untuk asuransi sangat jarang ada yang sungguh-sungguh merencanakan dengan baik.

Mengapa ???

1.) Banyak masyarakat membeli asuransi karena ditawari teman atau tidak enak menolak kerabat atau relasi yang menawarkan.

2.) Merasa sungkan untuk membicarakan perencanaan keuangan di masa sulit.

3.) Mayoritas pemilik polis asuransi tidak tahu apa manfaat asuransi yang mereka ambil.

4.) Anggaran yang disiapkan hanya sekedarnya saja, tetapi berharapp saat klaim akan memberi manfaat yang maksimal.

Perlu anda ketahui perencanaan yang “sekedarnya” dengan biaya “yang ala kadarnya”, dengan kata lain,
"BIAYA SEKEDARNYA + PROTEKSI ALA KADARNYA = MEMBANTU SEKEDARNYA di MASA SULIT." Melakukan hal itu akan membuat anda kecewa di kemudian hari karena tidak memberikan manfaat yang maksimal.

Bahayanya, saat masa sulit datang, mereka berharap asuransi akan membantu sebesar-besarnya, kalau perlu seluruh biaya yang dibutuhkan akan di cover. Jika dari pihak asuransi sedikit saja ada kata-kata : "yang diganti hanya…”, atau “maaf Pak, untuk masalah ini, Bapak belum di cover”, maka terulanglah kekecewaan nasabah terhadap asuransi. Padahal dalam dunia bisnis perencanaan keuangan sangat jelas prinsipnya : "ADA HARGA, ADA KUALITAS." Itu adalah hal yang sangat mendasar.

Jika anda ingin mendapatkan proteksi yg maksimal, recanakanlah masalah keuangan anda dengan biaya yg maksimal dan percayakan kepada perusahaan yang benar-benar berkualitas serta dapat memberikan manfaat yang maksimal atas resiko yg akan anda hadapi di kemudian hari.

Caranya?
¤ Anda bisa mengecek kualitas perusahaan yang akan anda berikan kepercayaan untuk mengcover segala resiko anda di www.forbes.com/global2000/list
¤ Anda bisa meminta beberapa perusahaan untuk membuatkan ilustrasi asuransi, dan bandingkan sendiri manfaat yang diperoleh. Ingat: Bandingkan secara "APPLE to APPLE". Ga mungkin kan anda membandingkan apel dengan mangga? Jika itu yg anda lakukan sampai kapanpun anda tidak akan mendapatkan hasil perbandingannya.

Melayani dengan tulus,

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas



Baca Selengkapya... »»  
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

JANGAN HANYA BISA BERTANYA KALO SUDAH DEWASA MAU JADI APA?

by : Unknown | Time : 3.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan




Setiap orang tua pastilah menginginkan anaknya menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya. Namun, kadang realita tak selalu sejalan dengan harapan awal karena berbagai hal, sehingga target pendidikan anak tidak bisa tercapai seperti rencana awal. Hal yang paling baik adalah merencanakan pendidikan disertai dengan investasi untuk biaya anak pada hari esok.

Menurut anda, perlukah mempersiapkan “Biaya Kuliah” sejak dini? Sebelum anda menjawab, coba cek tanggapan sebagian besar dari responden yang pernah kami ajukan pertanyaan serupa:  ” Kuliah  penting sich, Tapi Kan…”
¤ Anakku masih kecil
¤ Kuliah kan masih lama
¤ Masih banyak keperluan lain

Bagaimana? Apakah jawaban anda mirip dengan pernyataan diatas? Atau anda punya pendapat lain?

Tapi tahukah anda, faktanya:
¤ Tanpa disadari “biaya kuliah” terus merangkak, bahkan “berlari” naik dari tahun ke tahun
¤ Jaman Semakin Kompetitif, pintu kesuksesan pertama bagi buah hati anda adalah kuliah (pendidikan)

Berikut beberapa tips mempersiapkan “Biaya kuliah” bagi buah hati anda:

1.) Kenali faktor penentu besarnya tabungan yang perlu anda sisihkan, misalnya :
¤ Kemana anda akan menyekolahkan mereka?
¤ Didalam negeri atau diluar negeri?
¤ Ke jurusan apa anda akan mengarahkan mereka?
¤ Berapa usia anak anda saat ini?
¤ Berapa biaya hidup saat ini?

2.) Kenalilah komponen biaya kuliah, seperti:
¤ Uang pangkal
¤ Biaya pengenalan kampus
¤ Biaya kuliah
¤ Biaya kuliah tambahan
¤ Uang wisuda
¤ Buku
¤ Kegiatan Ekstrakurikuler

Bagaimana cara menghitungnya?
Untuk menghitung perkiraan biaya pendidikan anak dihari esok sebenarnya tidak begitu sulit, karena ada rumus sederhana yang bisa digunakan untuk memperkirakan besarnya biaya. Rumusnya adalah sebagai berikut:

FV = PV x (1 + i )^t 

Keterangan :
* FV = Future Value ( Total Biaya Pendidikan Akan datang)
* PV = Present Value ( Total Biaya Pendidikan Saat ini )
* i = Tingkat inflasi
* t = Jangka waktu (pangkat)

Sebagai contoh:
Saat ini anak anda berusia 2 tahun. Sedangkan biaya kuliah di Universitas adalah 200 juta. Dengan inflasi 6% pertahunnya, berapa biaya anak Anda saat berusia 18 tahun?

FV = PV x (1 + i ) t
    = 200.000.000 x (1+0,06)16
    = 508.000.000

Apakah sudah cukup? Saya yakin anda pasti menyadari bahwa rincian biaya kuliah diatas masih belum cukup, karena biaya diatas masih belum termasuk : biaya kuliah semester semester berikutnya, biaya buku, biaya ekstrakurikuler, biaya wisuda, biaya jajan, biaya transportasi, biaya hidup, dll…

Pertanyaan selanjutnya bagi anda:
¤ Apakah anda sudah mempersiapkan “biaya kuliah” anak anda?
¤ Dimana anda mengalokasikan dana tersebut?
¤ Apakah dana tersebut berkembang dengan baik serta mampu mengalahkan inflasi?

Itulah sebabnya kita perlu merencanakan biaya pendidikan anak, karena :

1.) Biaya pendidikan yang semakin tinggi di masa depan
Biaya pendidikan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan inflasi.

2.) Ketidakpastian di masa depan
Tidak ada seorang pun mampu memprediksi masa depan. Hari ini sehat, belum tentu besok lusa masih sehat. Hari ini punya rejeki melimpah, bulan depan belum tentu dapat rejeki berlimpah. INCOME kita bisa BERHENTI dalam sekejap karena KEMATIAN yang terlalu DINI, SAKIT KRITIS ataupun CACAT TETAP TOTAL. Untuk itulah kita perlu sedia payung sebelum hujan.

Banyak orang melakukan angsuran biaya pendidikan, namun kesalahan mereka adalah tidak tahu berapa seharusnya uang yang ditabung. Kebanyakan dari mereka menabung asal menabung saja, tetapi berapa nilainya tidak tahu!

Berkonsultasilah dengan ahlinya.

We Care About You,
PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas



Baca Selengkapya... »»  
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Warisan, Perlukah Direncanakan?

by : Unknown | Time : 3.6.13 Label: ASURANSI & Perencanaan Keuangan


Beberapa waktu yang lalu,  ada seorang laki-laki yang meninggal 3 tahun setelah memasuki masa pensiun dari sebuah lembaga pemerintah, karena sakit kanker hati. Sebelum pensiun lelaki itu adalah seorang Direktur disebuah Lembaga Pemerintah tersebut, sehingga hidupnya sangat berkecukupan. Sayangnya, ia meninggal hanya 6 bulan setelah vonis kanker hati, dengan kondisi yang mengenaskan karena ia tidak mendapat perawatan yang memadai secara medis. Almarhum meninggal dirumahnya. Keluarganya  enggan membawanya ketempat perawatan alternative, dengan alasan keuangan, karena perawatan alternatif pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sungguh mengenaskan.

Cerita diatas adalah kisah nyata. Sepertinya terlalu berlebihan, aneh dan tak masuk akal, tapi itu benar-benar terjadi, alias kisah nyata. Almarhum adalah seorang ayah dari 3 orang anak, yang sudah dewasa, terkecil sudah kuliah semester 3. Secara teori, seharusnya dia bisa mendapat perawatan yang layak secara medis karena almarhum memiliki asuransi kesehatan dari pemerintah. Tapi rasa gengsi karena terbiasa hidup berkecukupan dan enggan mempelajari cara menggunakan fasilitas askes telah membuat mereka tak mampu merawat bapak tersebut. Dan yang membuat hati miris adalah, rasa takut akan kehabisan harta & uang, dan akan menjadi miskin bila bapak meninggal, telah membuat istri dan anaknya membatasi biaya perawatan bapak yang tak berdaya tersebut., Lebih mengenaskan lagi, ketika sibapak sudah meninggal, harta warisannya menjadi sumber pertikaian antara istri dan anak-anaknya disatu pihak dan ibunya dipihak lain. Keluarganya menghendaki harta diwaris sesuai hukum negara, sehingga ahli waris hanya anak dan istri almarhum, dengan demikian ibunya tidak mendapat bagian. Sementara keluarga besar sang ibu (85tahun), mengharapkan pembagian harta waris menurut hukum  agama Islam, sehingga sang ibu berhak mendapat bagian 1/6 dari harta warisan. Mengingat sang ibu telah membesarkan almarhum seorang diri, karena  almarhum adalah yatim sejak balita. Tuntutan keluarga si ibu wajar tentunya. Sampai tulisan ini dibuat, saya pun belum tahu bagaimana akhir dari perseteruan itu.

Cerita diatas rasanya bukanlah cerita yang jauh dari kehidupan kita. Ada saja yang turut menambahkan cerita baru, bila kita membahas tentang warisan. Ketika sehat kita tak pernah ingin membahas warisan. Kalau membaca kisah nyata seperti diatas, kita akan tersentak dan langsung menyadari perlunya perencanaan warisan. Namun bila telah berlalu hitungan hari, minggu bahkan bulan, maka rencana tinggalah rencana. Keinginan membuat surat wasiat menjadi sesuatu yang tak penting lagi.  Sebenarnya, sepenting apa  perencanaan warisan ini?

Perencanaan warisan atau estate planning merupakan salah satu bagian dari perencanaan keuangan syariah. Karena perencanaan keuangan syariah meliputi segala hal tentang pengaturan harta yang dititipkan pada manusia, maka setiap perintah dalam alQur’an menyangkut pengaturan harta menjadi sebuah panduan dalam merencanakan keuangan ini.

Mengenai perencanaan waris, dan pembuatan surat wasiat,

Lihat QS 2:180.
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

Lihat juga QS.5:106
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu ……

Sedangkan didalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda:
”Barangsiapa yang wafat dalam keadaan berwasiat, maka dia telah mati di jalan Allah dan sunnah Rasulullah, mati dalam keadaan takwa dan syahid, dan mati dalam keadaan diampuni atas dosanya.” (HR. Ibnu Majah)

Perencanaan warisan merupakan satu bagian dari Perencanaan keuangan secara syariah. Perencanaan warisan merupakan salah satu tujuan keuangan, sehingga ia merupakan satu hal yang perlu dilakukan.  Lebih baik jika perencanaan warisan ini dilakukan dalam keadaan sehat dan tidak terburu-buru, sehingga tujuan agar pembagian harta tidak menimbulkan konflik kelak setelah pemiliknya meninggal dunia, dapat tercapai.

Tentu saja, perencanaan keuangan yang komprehensif lebih memberikan rasa aman bagi keluarga anda dan merupakan ibadah karena anda telah mengurus dengan baik titipan Allah.

Sudah siapkah anda dengan perencanaan warisan dan pembuataan surat wasiat?

Jika anda menyayangi keluarga anda, kapan anda akan melakukannya?

We Care About You,

PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/goresantintaemas


Baca Selengkapya... »»  
2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Author :

Edwin Darias
MindSet Motivator | CREATIVEpreneur OPTIMIZer | Business Tricker
Hp : 08126494008
BB pin: DAEBA62E
____________________________________________
Click this

Follow Our Twitter : @JiwaEntreprener | @MaestroVSI

Follow @JiwaEntreprener Tweets by @DiaryMedan
Follow @MaestroVSI Tweets by @MaestroVSI

Check This !!

  • Friend With Me in Facebook
  • Bisnis VSI Ust. Yusuf Mansur

Arsip Blog

  • ►  2019 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2014 (26)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (7)
  • ▼  2013 (134)
    • ►  Desember (28)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (30)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (21)
    • ▼  Juni (22)
      • Jangan Biarkan Sebuah Titik Menghancurkan Seluruh ...
      • Pelajaran Management - Para Perampok Ngerti Ilmu M...
      • Belajar Dari Jam Dinding : Arti Nafas Kehidupan
      • Setiap Langkah Adalah Anugerah
      • Masa Depan adalah Misteri - Kisah Nyata Seorang Pe...
      • Asuransi Bagi si Single, Perlukah?
      • Masih Muda Perlukah Asuransi?
      • Menentukan Nasib Jadi Kaya Atau Miskin
      • Financial Freedom - Kerja Sebagai Pegawai Atau Bis...
      • Tipu Daya Uang Kartal
      • Perencanaan Keuangan: Mengejar Inflasi Dengan Berh...
      • Mengapa Kita Tidak Bisa Menabung?
      • Menabung, Masih Perlukah?
      • Jangan Jadikan Arisan Sebagai Sarana Menabung
      • The Miracle - Percaya Pada Impian Anda
      • Kecewa Pada Asuransi?
      • JANGAN HANYA BISA BERTANYA KALO SUDAH DEWASA MAU J...
      • Warisan, Perlukah Direncanakan?
      • Financial Freedom - Perlukah Perencanaan Keuangan ...
      • Sedang Berutang, Kok Disuruh Beli Asuransi?
      • Nasib Keluarga Yang Ditinggalkan
      • Rumus Sukses di Bisnis Asuransi
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (126)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (18)
    • ►  Oktober (50)
    • ►  September (53)

Popular Posts

Category

  • ASURANSI & Perencanaan Keuangan (84)
  • Bisnis (50)
  • Inspirasi (44)
  • Motivasi & Pengembangan Diri (40)
  • Kisah Sukses (27)
  • Sukses (27)
  • Others (14)
  • Beranda
Free Hit Counters
Free Hit Counters
Diberdayakan oleh Blogger.
 

© SUKSES Dunia Akhirat
designed by @JiwaEntreprener | Bloggerized by Edwin Darias | 08126494008 / DAEBA62E