Tiba-tiba telepon Saya berdering,
"Selamat pagi Pak Andika, kira-kira hari ini bisa ketemu dikantor Saya, Pak?"
Nomor telepon dan suaranya saya kenal betul orangnya, kami pernah bertemu di sebuah acara seminar motivasi di kotaku.
"Baiklah Bapak, setelah jam makan siang saya sudah sampai di kantor Bapak, sampai ketemu di sana, terima kasih."
Dalam benak Saya ada apa ya, tumben beliau menelpon saya. Biasanya Saya yang menelpon beliau karena menurut Saya beliau adalah prospek yang "menjanjikan". Sebagai kepala bagian di salah satu bank BUMN tentu cukup bonafide bukan?
Singkat cerita Saya bertemu beliau di lobby kemudian beralih ke kantin di belakang kantor, dekat palataran parkir sepeda motor. Tempatnya cukup teduh dengan menu yang cukup variatif, menarik buat Saya.
Sedikit berbasa-basi. Sejurus kemudian saya bertanya ada apa Bapak sampai menelpon Saya, mendadak sekali. Untung saya sedang tidak ke luar kota.
Dengan sedikit mengunyah makanan beliau bercerita, minggu lalu beliau menjalani medical check-up sebagai syarat kenaikan pangkat. Dari situlah terdeteksi adanya penyempitan pembuluh darah dan berpotensi Stroke. Selain itu bilik kiri Jantung beliau juga "sedikit" bermasalah.
Beliau ingat betul iklan di stasiun TV, salah satu produk OATS yang terkenal itu menyatakan bahwa Jantung & Stroke adalah Pembunuh No. 1, tentu tanpa alasan karena hasil tersebut adalah survey badan dunia yang berkompeten mengurusi kesehatan (WHO).
Aaaaahh Saya tahu maksud si bapak ini, tapi Saya lebih suka untuk pura-pura tidak tahu.
"Lalu bagaimana saran Dokter, Pak?"
"Sementara ini masih berobat jalan, tapi rekomendasinya sih operasi. Jadi maksud Saya telepon mas Andika ini supaya bisa submit asuransi yang tempo hari sempat mas tawarkan ke Saya."
Nah, betul kan? Tebakan saya 100% tidak meleset. Kasus seperti di Atas sering saya temui. Pada awalnya mereka tidak merasa akan membutuhkan asuransi, bagi Saya tidak masalah. Tugas saya adalah berbagi informasi seputar proteksi dan perencanaan keuangan untuk masa depan yang lebih baik. Urusan beli atau tidaknya asuransi itu hak nasabah, bukan hak Saya untuk memaksa mereka membeli.
Rata-rata mereka sadar manfaat asuransi saat sudah betul-betul membutuhkan seperti sakit, biaya sekolah, atau masa-masa sudah mendekati pensiun. Tetapi mereka tidak memahami bahwa asuransi itu "tidak bekerja" serta merta seperti lembaga-lembaga simpan pinjam atau pegadaian. Asuransi bukan badan amal.
Asuransi bekerja berdasarkan waktu, semakin panjang waktu menabung maka biaya asuransi semakin kecil. Korelasinya dengan umur, semakin muda usia semakin murah. Semakin sehat semakin murah. Bagaimana jika sudah sakit?
Masih ada kemungkinan diterima dengan banyak catatan, diantaranya bukan penyakit yang disebabkan oleh keturunan/genetik dan tidak termasuk dalam 49 jenis penyakit kritis diantaranya Jantung, Stroke, Kanker/Tumor, dan Ginjal.
Dengan berat hati saya menolak permohonan si bapak tadi karena sudah terdeteksi di awal sebelum submit aplikasinya. Lain halnya jika pada saat Saya datang tempo hari bapak tanda tangan dan bisa submit segera, tentunya hari ini Saya datang dengan membawa formulir klaim. Bukan begitu?
Penyesalan selalu datang di akhir cerita, untuk itulah saya berbagi cerita dengan teman-teman. Jangan sampai terlambat, jika sudah sakit tidak ada perusahaan asuransi yang mau menerima Anda.
Begitupun jika Anda bermaksud menyiapkan pensiun, semakin dekat masa pensiun Anda maka semakin besar pula nilai tabungan yang harus Anda bayarkan. Mari, mulai kita membenahi pola pikir kita masing-masing bahwa dengan berasuransi masa depan kita lebih berarti, untuk diri kita sendiri dan keluarga tercinta.
Informasi dan konsultasi Saya layani setiap hari, dimanapun Anda berada. Mohon membuat janji terlebih dahulu.
Melayani dengan tulus,
PT.Allianz Life Indonesia
Edwin (Financial Planner)
HP: 085262184411
Pin BB: 26EED2F4
Twitter: @DiaryMedan @AllianzNetwork
Facebook Page: https://www.facebook.com/


0 komentar:
Posting Komentar